Minggu, 16 Desember 2007

Puisi-Puisi Fredy Wowor: "Ecce Homo, Sajak Anti Agama, Sebuah Sajak Buat Ie' Ladore..."

(Serpihan sajak dari tahun 1994)

ECCE HOMO*

Qita tidak lagi mesti

Terpaku pada tatakrama segala

Minta janji ditepati

Qita tidak lagi mesti

Terpesona pada senyum perempuan pingitan

Minta cinta dihargai

Qita tidak lagi mesti

Terpasung pada setiap aturan larangan

Minta sumpah ditaati

Mari,

Ikutkan irama lapar menggelegak

Dan hanguskan desah napas

Memburu pagutan perempuan dursila

Tidak perduli sypilis ngeram dalam nadi

Sedikit lagi bertambah terinfeksi HIV

Mencinta layak tak ada lagi hari esok

Jelajahi lembah-lembah ajaib Venus

Gunung-gunung menjulang dengan kepundan membara

Berlaku segila Nietsche – Gott Ist Tott !!

Belum cukup diri

Tembak-ledakkan dahimu seperti

Laki berkuning rok punya hitam kaca mata

Terkekeh seolah punya sepuluh jiwa –

TERKUTUK

*Inilah Manusia

SAJAK ANTI AGAMA

Masih parcaya kalian pada agama

Institusi bejat ini telah mengubur Tuhan

Di balik kekeramatan gedung peribadatan

Kitap sucinya juga menulahi segala

Dengan seringai kepicikan aturan larangan

Jadi apa keturunan kita nanti

Bila diingusi selalu oleh impian laknat

Kelancungan petitih para rohaniwan munafik

Hingga loba senantiasa menelikung jiwa

Cukup sampai disini saja

Kebenaran sejati tidak lahir

Dari kedegilan hati manusia

SEBUAH SAJAK BUAT Ie’LADORE

Ini dosa Tuhan

Tapi kenapa Engkau biarkan

Aku lumat bibirnya

Ini dosa Tuhan

Tapi kenapa Engkau biarkan

Aku jamah totonya

Ini dosa Tuhan

Tapi kenapa Engkau biarkan

Aku perawani kesuciannya

Ini dosa Tuhan

Tapi kenapa Engkau biarkan

Dosa itu nikmat

BOHEMIAN FUCKING BLUES

AMBIL TALI GANTUNG DIRIMU !

----------------------------------------------

So laat skali

Langit bergelimang bintang-bintang ganjil

Laut berbuih topan-topan gendeng gelombang celaka

Padang kerontang kering berkabut asab mesiu

Ada juga bau limbah pabrik

Dan radio aktif dari pipa-pipa bawah tanah

Masih ada lagi AIDS tambah EBOLA

Ini jiwa hilang dunia manusia tempat

Dimana kanak dulu lagi ? aku percaya pernah

Keperkasaan sumpah leluhur

Keagungan cinta luhur bersama

Kereda-damaian surat-suratan sahabatan dan

Kata ahli agama serta petitih para penggantang asab

Tapi kini

Aku datang dalam badai diriku

Ku kutuki sumpah leluhur

Ku kangkangi keagungan cinta luhur bersama

Ku hancurkan lagi kereda-damaian surat-suratan sahabatan dan

Ku ludahi ahli agama kata serta petitih para penggantang asab

Aku datang dalam badai diriku

Melintasi langit bergelimang bintang-bintang ganjil

Menyelami laut berbuih topan-topan gendeng gelombang celaka

Mengedari padang kerontang kering berkabut asab mesiu

Dihantui bau limbah pabrik – radio aktif dari pipa-pipa bawah tanah

Masih ada lagi AIDS tambah EBOLA

Di atas samua ini – aku maki diriku !

Mau saja membikin perhitungan dengan dunia

Nusia serta sekeliling yang minta perhatian jauh

Dari diriku pula – aku berdiri di sini !

Di ruang lega-lapang tak bertepi

Kesepian dari dunia nusia

Hura-hara kebisingan

Penghabisan luruh berantakan ini jiwa –

Di bawah pohon-pohon terasing

Tersembunyi tingkap-tingkap teratak keji

Tergantung mengambang bayangan mesum

Dari diriku

Terbit menyinar kebersihan ganjil

Caya purnama ajaib lain dari kelainan jiwaan lata

CHRIST SUDAH MATI – BANGSAT !

BLUES MARIARA*

Aku kan kirimkan

Boneka daging tanpa kelamin

Petanda perih luka hatiku

Aku kan cekikkan jari-jari sepi

Dari geliat leher-leher resah ini

Aku kan gigitkan gigi-gigi ngilu pilu

Aku kan cabikkan kuku-kuku risau rindu

Pabila pedih dagingku tak bisa menanah darah

Mengorek ikal usus perut renyai

Ngerayangi nadi passi denyut syahwat urat orok

Menghirup leleran leler perawan ruh

Kau cinta ku ! Kau ! Kaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaau !

Mariara : (bahasa Tontemboan) tukang teluh