Minggu, 02 September 2007
Foke dan Pluralitas Indonesia
Sabtu, 01 September 2007
Puisi-Puisi Inggrid Pangkey: "Mawalemorfosa, Pulang Pada Cinta, ..."
MAWALEMORFOSA
Untuk apa mengelana ke selatan
sementara di sini tersedia
cukup tanah yang menghidupi
sinaran jiwa bunda
mencurah tegar bijak sang ayah
menyejuk sukma, memancar ramah
dari mata sedarah
bahwa tanah ini
Untuk apa menjejal takdir ke selatan
ternyata di sini masih cukup
banyak cinta
sebar ketulusan tak hanya ucap
tapi terulur panjang menjamah hati tetap
mendekap erat, supaya tak lepas harap
berseru kekasih
mari membajak di tanah sendiri
PULANG PADA CINTA
Mengapa gontai jejaki takdir?
Mari pulang..pulang pada cinta
yang wariskan keabadian darah
mahkotahkan kodrat
berhias kemurnian rasa
percuma mengais hidup
di hati yang kerontang.
Mari pulang.. pulang pada cinta
yang melautkan setia
meriak seia
menepi rindu
sauhlah segala rasa
karam di dermaga
karena cinta menanti
maknai usia
dengan karya
TENTANG SUATU BANGSA
Mengkristal kini budaya
pada prasasti raya
tentang suatu bangsa
Terpajang indah pula
kilau jayanya
dalam romansa
artefak sejarah
yang dengan bangganya dikumandangkan
sebagai wujud kekinian peradaban
bangsa itu
sungguh ironis…
pembenaran yang bercumbu munafik
berkilah sebagai pewaris
tapi mengemis pada gerimis globalisasi
yang bengis, meringis pada sang pewaris
yang saying, terlalu tersenyum manis
terdengar kini hanyalah dongeng konon
dan setumpuk buku
berbaris kata “pernah”…
TENTANG KASIH
Kasih yang t’lah terbakar sucinya
menyisakan debu yang terbang
bersama kepulan asap
usaha ‘tuk menghirup sisa kemurniannya
ternyata hanya menyesakkan saluran hidup
keperkasaanmu dulu
yang akhirnya
tinggal menjadi dongeng tidur bagi anakku
Awan hitam berkabung atas layunya harummu
laut keruh, seiring kulitmu yang keriput
akh, inikah tandanya waktu
tidak!!!
Wahai dunia,
sambil meratap
kita tinggal menunggu
datangnya hari penghakiman
REALITA
Nyiur melambai di tepian
lirih, menatap kelambu hitam
yang halangi mentari mencurah
cahya nirwana
membasuh fana
dosa yang terjebak bencana
mulut – mulut yang menganga
meraup baka..ampuni jiwa
demi satu dua hela nafasnya
Nyiur melambai di tepian
miris, berkhayal dalam imaji
bilakah mulut – mulut itu terkatup janji
bukankah nasi yang tersaji
meski meronta nadi menuntut gizi
tetap tak terucap
hasrat mengecap
tirani mendesak
Nyiur melambai di tepian
perih, merontah sukma
berserakkan raga – raga
taruna pengemban sabda
yang jejali dunia dengan sok mulia
terlupa menentang tameng
atau, memang sengaja
yakin jiwa terlalu baja?
Dogma sang bunda
katanya serak mengiang
pecahkan gendang
menabuh bintang
tapi apa?
Terseret meraka
bersama arus neraka
Cerpen Karya Greenhill G. Weol: "Cot di Bukit Tareran"
Cot di Bukit Tareran
Semuanya siap di posisi. Semua larut dalam ketegangan masing-masing. Semua diam. Hanya raung rie-rie di kejauhan yang sekali-kali naik-turun mengusik peka telinga. Semua mata mengarah ke tikungan jalan. Laras-laras juga menujuk ke arah itu. Senjata-sejata sudah dikokang sejak setengah jam lalu, semenjak scout terakhir kami kembali dengan terengah-engah dengan laporan “Tentara Pusat sudah hampir melewati Wuwuk! Lima belas menit lagi giliran kita”. Kulirik jam tanganku. Pukul tiga lewat lima. Ini terlalu lama, pikirku. Seharusnya mereka sudah di sini seperempat jam lalu. Pasukan kami yang di tempatkan di desa sebelah tidak seberapa jumlah dan persenjataanya, hanya lsekitar sepuluh orang, lima tentara regular dan sisanya anak-anak sekolah lanjutan yang diberi senjata. Tidak mungkin mereka bisa bertahan terlalu lama melawan lapis baja. Lagipula letusan senjata sudah tak menggema lagi sejak lebih duapuluh menit. Mereka bertugas hanya untuk memperlambat gerak musuh agar kami bisa bersiap lebih lama lagi, bisa membuat pertahanan yang lebih sulit di penetrasi. Aku tak tau berapa lama kami juga bisa bertahan namun setidaknya sekarang ada delapan belas tentara terlatih lengakap semi otomatik, sekitar sepuluh laskar rakyat dengan bedil dan satu pom-pom mengawal cot ujung kampung Rumoong Atas.
“Komandan, dinamit di jembatan Tunan sudah selesai dipasang” sebuah suara berbisik pelan. Lima orang tentara bergerak hati-hati ke depan. Dua kearah pekuburan seberang jalan tepat di bawah cot, tiga menganbil posisi di semak depan. Jembatan bikinan Belanda walaupun tua perlu perlu penanganan khusus, salah penempatan peledak, bergeming pun tidak. Jembatan Pineleng contohnya, karena tak cermat diledakkan Cuma hancur sebagian. Hanya setengah hari diperlukan tentara Pusat untuk merekonstruksinya. Sungai tunan bertempat di ujung sebelah kampung ini. Jembatan di atasnya peninggalan kolonial. Pasukan Karundeng memasang peledak di sana hampir dua jam. Dia memang ahlinya. Pensiunan KNIL ini sudah meledakkan hampir sepuluh jembatan. Kelima orang anggota regunya juga tentara terlatih. Mereka anggota pasukan Ular Hitam yang dulunya bertugas di wilayah pantai Bolaang Uki, yang bertugas menjemput dan mengawal kiriman senjata dari Tawao. Setelah Kotamobagu jatuh, mereka ditarik mudur dan bergabung ketitik-titik pertahanan kami di selatan. “Jangan jauh-jauh dariku”, aku menanhannya pada waktu ia hendak merayap maju ke parit di depan.
Tentara Pusat datang dari arah bawah, arah Tumpaan, dengan kekuatan dua tank dan dua panzer, serta satu truk dan infantri yang jumlahnya kami tak tau pasti. Setelah sebulan mulai memborbardir Amurang, seminggu lalu mereka berhasil mendaratkan pasukan dan merebutnya, dan sekarang moncong senjata mereka mulai diarahkan ke pedalaman. Mereka mulai menjelajah ke atas. Bukit Tareran adalah wilayah pembatas antara pesisir pantai dan pegunungan. Dari arah selatan, di tempat inilah pertahanan terdepan kami, “Orang Gunung”, sebagai last line of defence. Bahkan sejak ratusan tahun lalu, dikala Malesung bersengketa dengan Mongondouw, tempat ini sudah melegenda sebagai tempat pembantaian serdadu-serdadu musuh. Bahkan konon, Bukit Tareran adalah jelmaan dari tumpukan jasad pasukan Mongondouw yang jatuh korban. Kami hanya bertahan.
Musuh tak pernah melewati garis ini. Pasukan gabungan walak-walak se- Minahasa selalu mampu mempertahankan batas. Tetapi itu dulu. Sekarang, ceritanya lain. Tidak ada tentara gabungan. Aku telah meradio Kawangkoan minta tambahan pasukan, namun katanya cadangan sudah dikirim ke Tondano. Pasukan disana lagi kewalahan menangkis gempuran musuh dari dua titik sekaligus, dari arah Tonsea Lama dan dari Tomohon. Andai saja si Mongdong tidak menyerah segampang itu, mungkin Pusat masih sejauh Tinoor dan akan ada pesediaan tenaga untuk menjaga front selatan. Utusan yang kukirin ke Motoling pun sampai detik ini belum kembali. Kabarnya disana keadaan lagi genting-gentingnya. Pusat beusaha untuk memotong garis komunikasi dan aliran logistik pasukan kami yang bergerilya di hutan-hutan Mongondow dengan menguasai selatan Minahasa. Dengan begitu mereka mengisolasi wilayah PERMESTA menjadi hanya di dataran tinggi. Jadi, dengan kekuatan yang tak lebih dari tiga regu dan persediaan amunisi yang terbatas, kami kelihatannya harus benar-benar memberikan semua yang kami punya. Sejak dua hari lalu parit-parit pertahanan telah digali. Jalan diblokir dengan drum-drum bekas dan sebuah bis tua. Cot dibentengi dengan karung-karung pasir. Sayang, kami tidak punya ranjau darat. Jika punya berapa unit saja kami... “Mereka tiba!” seru seorang tentara di parit terdepan membuyar lamunanku. Benar. Sayup-sayup suara derit rantai dan gir mulai terdengar. Semua kelihatan menahan napas...
Puisi-Puisi Alfrits Oroh: Kalender Tondano I - II"
KALENDER TONDANO I
Wer somu – somu
kong udara dingin
beking tulang maso dinging
sampe badan so manucu
kalu nyanda tahang
gampang dapa saki.
Panas kadang datang
mar ujang nda pernah alpa
nda kanal bulan,
mar dorang tetap ba tanang padi
deng piara ikang karamba.
Itu no depe nama Tondano
ada UNIMA
Tanah subur nda pernah kring
aer mengalir dari danau Tondano
Ibu kotanya Minahasa.
Dapa inga...
Kalu dulu qta cuma dengar
tu danau Tondano bersih deng lebar
ada hidop burung Manguni,
ikang payangka, bomboya, mujair deng nike.
Kasiang skarang taong so baruba
qta so nda riki lia
tu burung Manguni,ikang payangka, bomboya,
deng depe lebarnya danau Tondano
karna jenjer so balingkar kong
pohong so banya orang potong.
Mar untung jo…
Qta masih rasa om kumis pe masakan
mujair woku deng tu nike goreng tamba tinorangsak
qta makang sampe ta kanyang – kanyang
riki amper pica ta pe puru
KALENDER TONDANO II
Pasiar ka pasar Tondano
kalu cuma mo bajalang kaki
jang banya ba lia ka kanan ato ka kiri.
Lebe bae jalang turus jo
kong pasang mata di kaki
supaya nda ta injang
tai kuda ato sapi.
Bagitu lei kalu mo pasiar
ka pinggir danau Tondano.
Nae bendi balia pemandangan ka kiri ato ka kanan,
kage-kage so dapa lia wewene
mandi nda sadar diri ba talanjang bulat
sampe om Lole so tagantong badiri.
Itu Lince bataria ta rabe – rabe,
cari depe anak bapontar so lupa pulang.
Karna tadi sore Lince cuma babauni
deng bakarlota di birmang pe ruma.
Hele laki so pulang kobong dia nda tau
kong blum momasa
for mo makang ini
piring terbang deng tu kobong binatang
kaluar tabongkar dari depe sarang.
Puisi-Puisi Fredy Sreudeman Wowor: "Minahasan Blues I - III
MINAHASAN BLUES
(I)
Bus ka
Menghembus laju malintas
Tiap tikungan
Qta deng dia
Masih aja bersetia
Dalam kedirian masing-masing
Dari balakang
Kondek datang tagi doi
3000 pera for dopulu kilo lebe dari Tomohon
Eh, baru tre lewat partigaan Pineleng
Tong pe oto Dong kase brenti
Pemur lei ! tenga hari tua bagini ada suepeng
Nyanda puas Dong deng gaji bulanan
Salalu jo bapajak pa sopir-sopir
Baru tadi pagi lei di pinus Lahendong
Dong pajak sopir-sopir Sonder-Tomohon
So nda butul komang ini pamerenta
Pulisipulisi caparuni Dong masih pake lai
Mo ator lalu lintas kata
Pii…
Mo bapancuri gaji sa’nu !
MINAHASAN BLUES
(II)
Bajalang
Di pusat kota Tomohon
Cari oto
Ka bekas terminal Sonder
Di prampatan Paslaten
Qta bobou sate ba
Samantara bakar sapanjang rei Sion –
Kios buku GMIM
Yang skarang so lebe maraya
Di tenga serbuan VCD bajakan utiuti
Deng kepungan rental play station
Di amper samua lorong
Pas sampe ruma
Qta dengar Sion FM
Papa da stel
Cukimai,
Orang-orang gunung lidah baminya-minya
Bicara Lu-Gue di Ajang Curhat
So bukang gampang komang
Tong pe kayomba’an ini
Apa jo nanti torang pe dotu-dotu mo bilang
Kalu de pe turunan skarang
Mo pake Tong deng Dong saja
Minder stenga mati
Ini nimbole kase biar, tamang
Mo taru di mana tong pe muka ?
Wahai, anak-anak puyun ni Lumimuut-Toar !
MINAHASAN BLUES
(III)
Ujang karas
Sapanjang jalang ka Sonder
Beking Tomohon di balakang tatinggal
Dalam kabutan
Sabla pa qta
Parampuang pasung dari Sarongsong
Resah dititik tetesan
Aer ujang yang manyusup retakan
Bagean atas pinggiran pintu mikrolet
Dari tape oto
Qta dengar Pussy Cat
Mangalun dalang lagu
Yang qta sandiri so nda tau apa judulnya
Maso Kolongan Atas
Kage sopir kase mati tu tape
“iko akang dang di lorong tenga”
Cukurungan,
Qta make dalang hati
“Itu lagu blum riki klar”
Tape sopir so nyanda pasang ulang
“Beking tagantong jo !”