Jumat, 05 September 2008

Esei Greenhill Galnvon Weol: "Gereja vs Seni: Sebuah Perang AntiTuhan"

Sebuah apresiasi terhadap PSR dan FSP GMIM

lewat eksistensi Sanggar Remiks, Minahasa Utara


The Church of our days in general does not recognize Her cultural mission.

She should be here to give meaning and support for all genuine efforts to enlarge our knowledge of reality and deepen our perception of the mystery of life.

We have to cultivate our personal life, to integrate our faith with contemporary thinking,

to integrate our devotion and adoration with a certain sensitivity towards contemporary arts.

(Daniel Pastircˇak, Artistic Creativity and Christian Spirituality)

Pelaksanaan PSR (Pesta Seni Remaja) GMIM yang beberapa hari lagi akan mengambil tempat di Tomohon, kemudian dilanjutkan dengan FSPG (Festival Seni Pemuda GMIM) yang direncanakan akan dilaksanakan di Tondano akan menjadi event kesenian dan kebudayaan Minahasa yang terbesar tahun ini. Setidaknya, pelaksanaan kedua perhelatan ini akan menjadi semacam “penawar” dari ketidakberhasilan lembaga kerohanian menampakkan prophetic mission-nya akhir-akhir ini. Setelah GMIM, yang adalah denominasi terbesar sekaligus sebagai sebuah ikon utama kekristenan di Tanah Minahasa, terlarut dalam konflik interen yang memang berlarut-larut itu (ini adalah sebuah ‘rahasia umum’, jadi tolong jangan diceritakan kesiapa-siapa), akhirnya, seni kembali menjadi “juru selamat yang hidup!”.

Mengapa saya berkata demikian? Pertama, karena saya ingin berkata demikian. Jika anda mempunyai pendapat berbeda, silahkan. Kedua, sebab, meminjam sebuah kalimat bijak (yang telah saya sedikit sesuaikan), “saat politik deadlock, seni harus mampu memberi alternative”. Politik? Bukankah kita sedang membahas lembaga keagamaan? Mengapa kita jadi melenceng ke politik? Begitu mungkin anda merespon. Jangan tanya saya tamang, enter kita le heran. Menurut saya, yang paling mampu menjawab ini adalah para politisi kita yang ramai-ramai menggunakan predikat-predikat jabat-gereja dalam memperpanjang nama mereka, dalam upaya menggalang suara.

Baru-baru ini saya diundang seorang teman jaring budaya Mawale Movement dari Tonsea, Chandra Dengah Rooroh, untuk turut hadir dalam latihan yang dilanjutkan semacam sebuah ibadah pengutusan dari Sanggar Remiks yang bernaung dibawah Jemaat GMIM Efrata, Kolongan Tetempangan, Kalawat. Jemaat ini masih berusia muda, sekitar satu tahunan mekar dari induk. Peribadatan pun masih menempati sebuah bangunan sederhana dari papan. Bangunan permanent sedang dibangun, dan telah kelar sekitar 30 persen. Tetapi, semua itu tidak menyita perhatian saya, sungguh, cukuplah sudah mengukur pencapaian keberhasilan ‘pembangunan kerohanian’ lewat segala sesuatu yang berbentuk bangunan fisik. Yang menarik justru adalah keberadaan puluhan pemuda-remaja yang giat berkesenian. Remiks berniat turun (atau naik?) dalam lomba teater dan grup vokal pada PSR ini. Namanya juga remaja, seserius-seriusnya mereka, tetap gelak-tawa dan canda-ria bergema. Tetapi, terlihat kesungguhan hati dimata mereka, dan, ini yang penting, terbersit sebuah cahaya di mata mereka. Cahaya semacam ini sering terlihat di mata paramuda kala mereka sedang berusaha membuktikan eksistensi mereka lewat kegiatan-kegiatan yang ‘kurang rohani’ semisal mabo, dola orang, bapajak, bakalae, antar motor rupa gila, pake narkoba, seks bebas, dan sejenisnya. Pendeta Donny Simbar Sth., ketua gereja, berkata bahwa dengan adanya venue penyaluran kreativitas yang disediakan gereja, energi-energi berlebih yang sudah secara alamiah dimiliki oleh paramuda bisa disalurkan kearah yang lebih benar, sebab, biar bagaimanapun mereka harus melepaskan itu. “Tinggal bagaimana mengarahkan emosi-emosi ini di tempat yang seharusnya”, simpul Simbar. Memang benar, secara teoritik, seni memang menawarkan sarana ‘pelampiasan’ emosi, baik dari yang menjadi performans, maupun para apresian. Demikian dikatakan Theory of Literature:

The function of literature, some say, is to relieve us, either writers or readers, from the pressure of emotions. To express emotions is to be free of them (Wellek dan Warren, 1956:36).

Lebih jauh, paling-tidak gereja bisa (kembali) menyangkal Marx yang berkata “agama adalah candu” dengan menunjukkan bahwa, hei sob! gereja tidak hanya mengajarkan umatnya untuk duduk-diam dan meredam gejolak emosi (gejolak seperti ini bisa disebabkan apasaja, dari represi/depresi politik, sampai naiknya hormone seksual) dengan doa dan ibadah saja dan berkata bahwa so ini tu salib yang torang musti pikul, tetapi juga menyediakan ruang penyaluran! Aaahh…

Sanggar Remiks, abreviasi keren dari “Remaja Milik Kristus”, saat ini mewadahi setidaknya belasan pemuda-remaja dalam sayap teaternya, begitu kata Carlos Manatar yang dipercayakan sebagai koordinator teater. Jika anda lebih akrab dengan kata ‘drama’, secara teknis drama menunjuk pada ‘teks atau naskah’. Drama yang dipentaskan disebut ‘teater’. Gereja dan Teater adalah dua kata yang sebenarnya tidak terlalu jauh terpisah. Menurut banyak literatur, seni performans ini pada awalnya memang sangat religius. Teater adalah bagian penting dari ritual-ritual dimana terjadi pemujaan kepada unsur-unsur “metafisis”. Pada zaman pertengahan, kekristenan mulai mengadopsi teater dalam ibadah. “Nativity Play” digunakan untuk menampilkan gambaran peristiwa kelahiran Yesus. “Moral Play” menjadi popular sebagai sebuah metode untuk mengajarkan akhlak kepada konstituen gereja. Syahdan, Zending, yang “membawa berita keselamatan” ke Tanah Minahasa, juga menggunakan teater sebagai media pelayanan, yang menyebabkan sampai saat ini ibadah-ibadah Natal kita seolah tak lengkap jika tanpa lakon “Maria-Yusuf” dan prosesi Pawai Paskah kita lengkap dengan serdadu-serdadu Romawi yang dengan kejam mencambuki seseorang berambut gondrong yang sedang memanggul balak. Jadi, memang sudah seharusnya, tradisi peribadatan kita memberi ruang sebesar-besarnya pada teater.

Benni Matindas, filsuf Minahasa, senantiasa berpesan bahwa peradaban Minahasa, yang adalah merupakan ‘suluh’ kekristenan di Indonesia, hanya dapat dibangun dengan mengembangkan “kesenian kreatif”, yakni bentuk-bentuk kesenian yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada kreatifitas, kepada pencarian-pencarian ranah-ranah baru dalam dunia ide dan filsafat. Kesenian kreatif adalah satu-satunya cara untuk mendidik, membentuk moralitas yang runtuh, mengingatkan identitas, serta membangun peradaban. Mohon maaf kepada bentuk kesenian lain, kesenian yang hanya bersifat repetitive, hanya mengulang-ulang (tarik suara sebagai misal), bahwa hanya Sastra- prosa, puisi dan drama, yang memiliki kriteria ‘kesenian kreatif’.

Seingat saya, setelah absen puluhan tahun, GMIM baru kembali mengadakan lomba teater dua tahun lalu. Walau demikian, kesenian secara umum masih sering mendapatkan resistansi dari dalam gereja sendiri. Saya sering menjadi tempat curhat dari remaja-remaja yang merasa ditolak untuk berkesenian di gereja. Alasan yang sering diberikan adalah bahwa gereja adalah sebuah tempat yang sakral, yang khusus, sehingga yang dapat dilakukan di dalamnya juga tidak sembarangan. Saya tidak menyangkal bahwa gereja adalah sesuatu yang bernilai religius, tapi, waduh!, rupa-rupanya sebuah bentuk Gnostisisma masih saja mencengkram erat kristenitas di Minahasa. Saya juga bangga berkata bahwa ‘saya anak Allah’, no karna itu kita nimau jadi anak yang biongo. Arthur F. Holmes, dalam bukunya “The Idea of a Christian College” menuliskan sebuah amaran:

This kind of Gnosticism keeps the Christian from cultural involvement, from artistic appreciation and creativity, from political and social action, and it generates a misdirected fear of science and philosophy and human learning. It produces needless tensions between faith and culture, a defensive attitude and sometimes even outright anti−intellectualism.

Teater, sebagai sebuah bentuk kesenian kreatif, selalu bertendensi memiliki daya kritis. Sebuah naskah drama yang baik akan menggambarkan pencarian-pencarian akan nilai-nilai kebenaran, menghantam ketidak adilan, dan memperjuangkan kebaikan. Nah! Nilai-nilai inilah yang kerap membuat banyak jemaat (atau para pimpinan jemaat) gagawang, merasa ditelanjangi keburukannya. Penolakan terhadap teater dari gereja menjadi pasti, mengatasnamakan kesantunan dan kesenonohan. Padahal, jika kesenian menyuarakan keadilan dan kebenaran, bukankah itu adalah nilai-nilai Ketuhanan? Menurut amatan saya, ada tiga kriteria yang sering digunakan ‘orang kristen’ untuk menilai sastra. Pertama, ada-tidaknya unsur-unsur yang dinilai eksplisit, yakni kekerasan, seksualitas dan profanitas. Kedua, ada-tidaknya pemujaan atau penghujatan terhadap nilai-nilai non-kristen. Ketiga, ada-tidaknya penampilan pemikiran, tindakan serta prilaku yang dianggap ‘berdosa’. Padahal, sebuah kajian terhadap sastra akan menyangkut unsur-unsur wacana, struktur penarasian, pemilihan kata, metafora, idiom, alegori dan sebagainya. Sastra yang baik adalah sastra yang berhasil memadu-padankan unsur-unsur diatas dengan sempurna. Pemaknaan paripurna terhadap sastra, pada gilirannya, akan muncul jika kita berhasil menggabungkan unsur-unsur diatas secara holistik. Pemahaman sastra harus senantiasa a posteriori, bukan a priori. Oh ya, tidak tahukah anda bahwa Alkitab adalah sebuah mahakarya sastra? (baca tulisan saya: “Alkitab: Karya Sastra Teragung” di www.sastra-minahasa.blogspot.com).

Allah, kreator alam semesta, pencipta diatas segala pencipta, telah melakukan semuanya dengan sempurna. Kejadian 1:31 menuliskan “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. Kebenaran juga adalah manunggal dengan-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” Yohanes 14:6. Maka, “All beauty, is God’s beauty, wherever it may be. All truth, is God’s truth, wherever it be found.”. Seni-budaya dan Gereja tidak untuk dipertentangkan. Mereka yang coba-coba mempertentangkannya silahkan berurusan langsung dengan Tuhan!

Sekarang teater dilombakan baik pada rang remaja juga pemuda. PSR yang segera dilaksanakan di Tomohon, menurut kabar terakhir, telah terdaftar 30-an jemaat, untuk lomba teater saja. FSPG juga mencatat puluhan peserta. Semenjak tahun lalu KGPM juga telah membentuk wing teater dalam kepemudaannya yakni Congregational Theater Center (CTC) yang ditujukan untuk membentuk serta membina teater-teater di seluruh jemaat. Tinggal menunggu denominasi-denominasi lain bergabung. Sebuah awal baru orientasi seni-budaya harus dimulai oleh gereja di Minahasa. Salah satu fungsi utama dari kesenian adalah sebagai sebuah ‘cermin’. Kita, Orang Kristen, seharusnya senantiasa mencerminkan imago Dei a capite ad calcem, imej Khalik Langit dan Bumi. Juga, ini jangan dilupakan, kita harus senantiasa bercermin melihat diri kita sendiri, melihat kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita dapat menemukan cara untuk memperbaikinya. Jadi, para pembaca yang budiman, rasanya saya harus menutup tulisan yang sangat serius maknanya ini dengan bakusedu: Ora et Labora deng Bakaca! Hehehe...