Rabu, 10 Desember 2008

Cerpen Grace O'Nelwan: "Peri Kenangan yang Tinggal di Akar Pohon di Taman Keabadian".

.
(Grace O’Nelwan)

Kisah ini berawal dari sebuah taman. Taman indah yang bernama “Taman Keabadian”, tempat para penyair berkumpul dan menghabiskan waktu mereka untuk bertemu dan berdiskusi dengan sesama penyair yang lain. Tapi “Taman Keabadian” hanyalah awal kisah saja, karena bukankah segala sesuatu harus mempunyai awal. Dan seperti hal - hal lain yang juga memiliki awal dan awal adalah hal yang penting dalam suatu peristiwa, maka awal kisah ini juga penting untuk dibaca. Jadi, dianjurkan untuk membaca kisah ini dari awal.


Sebuah Taman yang Dipenuhi Pohon Buku
Ada sebuah taman kecil yang dipenuhi pohon-pohon buku, (yah benar, yang aku maksudkan adalah pohon-pohon yang berbuah buku-buku). Pohon-pohon itu hanya tumbuh di taman milik seorang penyair yang baik hati, yang selama hidupnya tak pernah kaya dan selalu sendiri. Bukan karena tidak bisa menjadi kaya, tapi karena memang tidak berniat untuk menjadi kaya. Pernah dalam hidupnya dia mendapatkan 1 kesempatan besar untuk menjadi kaya raya, lebih kaya dari raja Midas. Menurut cerita yang dapat dibaca dari salah satu buku yang tumbuh di dahan pohon dalam tamannya, dulu sekali Dewi Juno, sang Ratu Angkasa pernah datang mengunjunginya. Dewi Juno sangat terkesan dengan sebuah syair yang ditulis penyair tadi. Sebuah syair sederhana yang menceritakan tentang bagaimana damainya hidup di Negeri Awan Biru, sebuah negeri yang megah indah di angkasa yang berdiri diatas gumpalan-gumpalan awan dan di pimpin oleh seorang Ratu cantik yang arif bijaksana. Tentu saja, Dewi Juno sangat tersanjung.
Di suatu sore setelah hujan turun Dewi Juno yang cantik berkenan mengunjungi sang Penyair. Berkendara kereta kencana yang ditarik Pegasus, dibalut pakaian indah yang bergelombang warna-warni dengan kepala dihiasi sebuah mahkota emas bertaburan mutiara dan sebuah tongkat emas berukir burung elang berada ditangannya. Dewi Juno memasuki rumah tua sang penyair, didampingi peri-peri pelangi yang bertugas membukakan jalan untuknya. Tentu saja sang penyair terkaget-kaget, mendapati dirinya dikunjungi Dewi Angkasa. 1 permintaan dihadiahkan sang Dewi untuk sang penyair.

“Katakanlah keinginanmu, apa saja, dan aku akan mengabulkannya.”

Sang penyair, yang seluruh hidupnya diabdikan untuk syair-syairnya, tak mempunyai keinginan apa-apa selain mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Karena itu dia hanya meminta dibuatkan sebuah taman yang ditumbuhi banyak pohon-pohon. Tapi bukan pohon buah-buahan (karena dia tidak takut kelaparan) ataupun pohon yang dapat berbuah emas (seperti yang kukatakan tadi, dia tidak berniat untuk menjadi kaya). Dia hanya menginginkan pohon-pohon yang dapat berbuah buku yang lahir dari pemikirannya, lahir dari pengalamannya. Pohon-pohon yang dapat membantu dia dan memudahkan dia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk tulisan. Walaupun terkejut dan merasa aneh, Dewi Juno mengabulkan keinginan sang Penyair yang baik hati ini. Dalam sekejap mata, sebuah taman dengan pohon-pohon yang berbuah buku, terbentang indah didepan mata sang penyair. Pohon-pohon dengan akar kuat yang menancap ketanah, dengan dahan-dahan kuat yang menampung beragam buku-buku. Walaupun daun yang menutupi pohon-pohon di taman itu sudah bereinkarnasi ratusan kali, tetap saja, tak ada sebuah bukupun yang jatuh dan lepas dari tangkainya.
Seiring dengan bertambahnya waktu, buku-buku di pohon itu makin bertambah. Yah, karena setiap kali sang Penyair mengalami sesuatu hal, sebuah buku baru akan muncul dari pohon di tamannya, bila sebuah ide melintas di otaknya, sebuah buku yang lain akan keluar dari ujung-ujung cabang yang di lindungi daun-daun berwarna kuning dan coklat. Setelah sang Penyair meninggal dalam kesendirian 179 tahun yang lalu, pohon-pohon di tamannya berhenti mengeluarkan buku. Tapi buku-buku yang ada di taman itu tetap ada disana. Tidak membusuk seperti lazimnya buah-buah yang lain. Tetap abadi bersama pikiran dan kenangan penyair yang baik hati tadi. Bertahun-tahun lewat, banyak sekali penyair dari seluruh dunia yang datang ke taman berpohon buku tersebut, untuk menemukan kearifan dan rahasia kehidupan di dunia lampau lewat pemikiran penyair tadi. Untuk mengenang sang Penyair, mereka menamakan taman itu “Taman Keabadian”


Dua Penyair Muda dan Segelas Kopi
Ada dua orang penyair muda yang sedang duduk di bawah sebuah pohon buku, di Taman Keabadian.”
Diatas meja kecil, yang dengan sengaja diletakan di bawah pohon, ada gelas besar berisi kopi panas. Dinginnya udara di taman dan panasnya kopi, membuat uap putih yang melingkar-lingkar keluar dari mulut gelas tadi.
“Ah, dari kumpulan cairan hitam, keluar asap putih. Ajaib!” gumam salah seorang dari kedua penyair tadi. Tangannya langsung mencoret-coret kertas putih dipangkuannya. Dalam hitungan detik, sebuah puisi yang terinspirasi dari kopi hitam dan asap putih yang melingkar keluar dari kopi telah selesai dia tulis. Tanpa diminta dia membacakan puisinya:

Dalam kumparan kegelapan
Menembus kabut putih yang pekat
Kureguk nikmatnya kelam
Di tengah manisnya malam

Selesai membacakan puisinya, dia menatap penyair kedua dan bertanya,”Apa pendapatmu?”
Hanya sebuah hembusan nafas keras yang diterimanya sebagai jawaban. Penyair kedua, yang kelihatannya lebih pendiam, sedang berkutat dengan sebuah usaha yang sia-sia. Kedua tangannya sibuk menangkap uap-uap putih yang mengepul. Sunyi sesaat dan penyair kedua membuka mulutnya,” Uap putih ini ibarat kenangan. Membuat gambar dan bentuk dalam sekejap, detik berikutnya akan berbaur dengan udara dan waktu, untuk kemudian hilang, lenyap, dan yang tinggal hanyalah kehampaan!”

“Apa yang kau tahu tentang kenangan?.” Penyair pertama kini meniup-niup mulut gelas berisi kopi, membuat uap putih dengan bentuk-bentuk abstrak berliak liuk dengan genitnya. “Kita berada di “Taman Keabadian” yang termasyur, semua kenangan tertulis dengan rincinya pada setiap buku yang bergelantungan di pohon-pohon ini. Bagaimana bisa kau samakan kenangan dengan kehampaan?”

Penyair kedua yang tadi sibuk menangkapi uap-uap putih, kini meluruskan badannya. Kedua tangannya dia letakan menyilang di atas kepala, dan berkata seolah-olah pada dirinya sendiri,” Benarkah semua kenangan telah terkungkung abadi dalam buku-buku sang Penyair? Tak adakah kenangan yang terlewati dari keabadian tulisan dan menguap menjadi sebuah kehampaan? Atau tak adakah kenangan yang dengan sengaja dilupakan dan dibiarkan lalu bersama angin?”

Penyair pertama memandang temannya dengan pandangan jengkel,” Tak baik bila kita terus berdebat.” Katanya lagi. “Lebih baik kita membaca bersama kisah yang diperuntukan untuk kita hari ini.”

Dengan tangan kirinya, dia menyentuh satu dahan pohon, meraih sebuah buku. Saat tangan sang penyair menyentuhnya, dengan lembut dahan kokoh itu merendahkan tubuhnya dan membiarkan buku yang diraih penyair pertama tadi mencapai meja. Angin membantu kedua penyair membuka lembaran-lembaran buku tersebut. Dan matahari yang tadinya malu-malu mengintip lewat celah daun-daun membacakan sebuah kisah yang ditulis dalam lembaran-lembaran tersebut. Kisah tentang sebuah permintaan.


Sebuah Kisah Dari Sebuah Buku di “Taman Keabadian”
Ini adalah kisah yang dibacakan matahari kepada dua penyair dari sebuah buku di “Taman Keabadian”
Di Rumah Kaca
Prolog:
Kutuliskan pada selembar daun
“Disini terbaring hati yang telah mati”
Daun ditiup angin..
Terbang tinggi… menghilang….(entah ke mana..)
****
Bagian I
Kemarin, di rumah kaca,
Dia datang, membawa kopi hangat dan selusin donat
Duduk didepanku, dan berkata
“kau adalah cermin diriku..”

Kemarin, di rumah kaca,
Berteman kopi pahit dan donat manis
Aku duduk diam mendengarnya bercerita,
Tentang pahit, tanpa manisnya cinta..

Tak akan ku bertanya “Mengapa”
Tapi ku tahu engkau terluka
Akupun pernah merasakannya
Terluka dalam yang tak berdarah,
Perihnya merobek jiwa, sakitnya tak terhingga.
Tak akan ku bertanya “Siapa”
Tapi ku tahu ‘dia’ orang tercinta
Akupun pernah mengalaminya
Ketika memberikan seluruh hatiku,
Kemudian menemukannya, membeku teraniaya.

Kemarin, di rumah kaca
Setelah kopi dan donat habis
Kubiarkan dia melanjutkan kisah,
Tentang keberanian hati yang pernah terluka

Aku tak tahu apa yang kau rasakan
Tapi aku tahu rasanya “ingin mati”
Jangankan bertemu penderitaan
Kebahagiaanpun terasa menyakitkan
Aku tak tahu apa yang kau inginkan
Tapi aku ingin memberimu cinta
Cinta yang juga dulu pernah terluka
Saat mencintai dengan buta
Aku tak tahu apa yang kau harapkan
Tapi aku harap kau menerima hati ini
Hati yang penuh tambal sulam
Dari kisah yang selalu tak indah


Bagian II
Hari ini, di rumah kaca
Dia datang tanpa kopi hangat dan donat
Duduk di depanku dan berkata
“aku membawakanmu cinta”

Hari ini, di rumah kaca
Tanpa kopi pahit dan donat manis
Dia duduk diam didepanku
Mendengar kisah hati yang telah mati.

Hatiku telah menemui ajalnya
Ketika dia terluka dan terluka lagi
Luka tak berdarah yang ternyata parah
T’lah kukuburkan hatiku
Pada sebuah daun
Dan kuluruhkan bersama angin
Tak kusesalkan matinya hati
Karena hati selalu rapuh.
Semuanya lebih mudah, tanpa hati.

Hari ini, di rumah kaca
Dia merogoh kantongnya
Daun yang diterbangkan angin,
Kini dalam genggamnya.

Kau mengira hatimu benar-benar mati
Sehingga luka cinta tak terasa sakit lagi
Tapi percayalah
Hatimu hanya membeku, bukan mati
Dan cinta dapat mencairkan kebekuannya

Hari ini, di rumah kaca
Tanganku dalam genggamnya
Dalam hening kudengar dia berkata…
“aku bisa membuktikannya”
****
Epilog
Kutuliskan pada selembar daun
“Maukah kau menungguku?”
Daun ditiup angin,
Terbang tinggi… (kini ku tahu kemana.)
Dan tiba-tiba hening… Kedua Penyair menanti matahari untuk melanjutkan kisah.

“ Ayolah matahari, ceritakan pada kami, bagaimana akhir kisah ini?” pinta kedua penyair tadi.

Tapi matahari tak lagi melanjutkan kisah, karena kisah ini memang hanya berakhir di sini saja. Mataharipun meminta diri untuk membacakan kisah yang lain bagi penyair yang lain. Kedua penyair yang tak merasa puas dengan kisah yang menurut mereka belum tuntas, ingin melanjutkan kisah itu sendiri.

“Menurutmu, apakah dia akan menunggunya?” Tanya penyair pertama kepada temannya.

“Sanggupkah orang menunggu tanpa batas waktu?” Jawab penyair kedua.

“Jadi menurutmu, dia tidak akan menunggunya?” Desak penyair pertama

“Adakah kemungkinan, dia yang meminta untuk ditunggu, malahan tak pernah datang?”

Penyair pertama menjadi kesal kepada temannya yang selalu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan yang lain. Dia memilih untuk tidak bertanya lagi. Kesunyian kemudian hadir diatara mereka, dan makin melingkupi mereka. Mata kedua penyair itu semakin berat, dan akhirnya mereka tertidur dibelai angin senja.



Kisah Kenangan Yang Tahu Segala Sesuatu
Namaku kenangan. Aku ada di mana-mana. Aku berada di antara akar pohon-pohon rindang, aku ikut mengalir bersama air sungai, terbang bersama angin, berpesta dengan badai, berdansa dengan gelombang, berjalan bersama kebahagian dan ikut menemani kesedihan. Dan aku tahu akhir kisah cerita Di Rumah Kaca yang dibaca oleh kedua orang penyair tadi. Kisah itu adalah potongan awal dari sebuah penantian panjang sang penyair pemilik taman ini.

Aku ingat, saat penyair pemilik ‘Taman Keabadian’ masih muda, pernah dia mencintai seorang gadis malang, yang selalu saja kehilangan. Penyair yang baik hati ini menemukan sang gadis ketika sang gadis sedang sekarat. Hati gadis malang itu telah membeku, penuh luka dan bekas luka yang masih terlihat dengan sangat jelas. Bukti nyata atas kepedihan dan kehilangan yang selalu dialaminya. Dengan sepenuh jiwa dibalutnya luka-luka hati sang gadis dengan hatinya sendiri, dan dibuatkan puisi-puisi pengobat duka. Melihat kebaikan hati sang penyair, gadis inipun mengumbar sebuah janji; ”Tunggulah aku, sampai luka cinta ini sembuh, dan aku akan mencintaimu.” Tapi setelah luka hati sang gadis sembuh, saat perihnya duka hilang, sang gadispun menghilang… Bertahun lewat sampai saat Dewi Juno datang memberikan hadiah 1 permintaan pada penyair, tapi gadis yang dia sembuhkan luka hatinya tak pernah kembali.


Saat Dewi Juno mengunjungi sang penyair, aku berada didekatnya, berbaur dengan udara yang dihirupnya, masuk kedalam hatinya dan memaksa penyair ini untuk meminta Dewi Juno menghadirkan gadis punyaanya. Tapi dia tidak mau mendengarkan kata hatinya. Aku tak menyerah. Akupun berenang bersama darah dan menembus otaknya, dan memaksa sang penyair untuk meminta kekayaan dunia, tapi sang penyairpun tak mendengar otaknya. Dia hanya mengikuti keinginannya. Karena itulah Sang penyair lebih memilih dibuatkan Taman Keabadian. Taman tempat dia mengabadikan sebagian kenangan dalam kehidupannya. Yah.., bukan semua kenangan yang dia abadikan, seperti yang dipikirkan orang-orang. Penyair kedua itu benar. Ada bagian peristiwa dalam hidup sang penyair pemilik taman ini yang tak dia abadikan dalam buku-bukunya.


Kalian tentu merasa heran, dari mana aku mengetahui semua hal ini. Tidak… aku tidak bermaksud sok tahu. Ingat, aku adalah kenangan itu sendiri, yang selalu hadir dalam setiap kejadian dalam perjalanan hidup manusia. Aku hadir dalam setiap helaan nafas dan selalu meninggalkan jejak dalam setiap peristiwa. Aku adalah ingatan tentang kebahagiaan sekaligus kesedihan. Ingatan akan kebersamaan dan juga kesendirian. Manusia sering mengira bahwa aku berwajah dua; Kenangan Indah dan Kenangan Buruk. Tapi sebenarnya tidak. Aku tak memiliki dua wajah dan aku tak pandai merubah wajah. Manusialah yang merubah wajahku dan kemudian menamaiku sesuai dengan keinginannya; yang ingin diingat dikatakan Kenangan Indah, dan yang ingin dilupakan dinamakan Kenangan buruk.
Sang penyairpun pernah menamakan aku Kenangan Buruk. Dan dengan sengaja dia coba menghilangkan ingatan akan sang gadis malang dengan luka hati yang berhasil dia sembuhkan. Gadis yang menghilang dengan meninggalkan sebuah janji “tunggulah aku, … aku akan mencintaimu.” Sang Penyair berusaha keras mengusirku dari ingatannya. Menekanku kepojok-pojok gelap ruang ingatan. Tapi seperti biasanya, aku tidak mudah menyerah. Aku berupaya sedemikan kerasnya untuk tetap berada dalam ingatanya. Kulingkarkan erat tanganku dalam ingatanya. Aku menjadi gurita kenangan. Makin keras dia mengusirku, makin ketat aku menggengam ingatannya.
Sang penyair akhirnya mengaku kalah, dan membiarkan aku tetap dalam ingatanya, hanya saja dia tidak bersedia mengabadikanku dalam tulisan-tulisannya. Tapi aku selalu abadi, dan terus tinggal bersama dengan sang penyair dalam tidur abadinya.


Sekali lagi aku adalah Kenangan. Aku ada di mana-mana. Aku berada di antara akar pohon-pohon rindang, aku ikut mengalir bersama air sungai, terbang bersama angin, berpesta dengan badai, berdansa dengan gelombang, berjalan bersama kebahagian dan ikut menemani kesedihan. Aku juga tahu kisah kedua penyair yang kini sedang tidur lelap di Taman Keabadian. Dan, oh yah, bukan itu saja, aku juga tahu tentang kisahmu….



(Tomohon, Desember 07 – Januari 08)
Menghapus kenanganan adalah sebuah kesia-siaan

Kamis, 06 November 2008

Puisi-Puisi Charlie Samola

AYANG KAMPUS



Kalu siang, pegang polpen tinta

Kalu malam, pegang meneer pe polpen!

------------------------------------

BAE-BAE NGONI

Ini malam Alo pigi ke corner
Bagaya sama deng model Taiwan
Mar di popoji ada isi pokos-pokos
Besi putih ta isi di pinggang


Ini malam Ungke pigi ke ha ha
Bapake gaya penyanyi rap negro
Mar ada piyanaung di popoji
Tumbaka ta isi di pinggang


Ini malam Olop pigi mento di kobong
Cuma pake mantel deng tas kaeng
Di popoji cuma ada tabaku sek
AK 47 komang yang di tas kaeng


---------------------------------------------------------------------------------------

BAGIMANA EEH !!?



Ketik A, spasi B, spasi C, spasi D…

Anjing…

Babi…

Cuki…

Dang !!!

----------------------------------------------------------------

BUDAYA SINEMA
AMOR…RRAL



Ada felem Indonesia baru lagi
Kita ada lia de pe extra di TV
Minggu depan somo putar di TO
Mar felem tentang…cintaaa lagi !


Pasti banya bege-bege lei yang bauni
Felem yang nda kalah deng sinetron
Memang bagitu kalu mo iko pasaran
Di pasar kan banya jual ikang


Oh Tolong ! babagini trus jo dang !
Kapan orang Indonesia mo lebe pande
Apalagi tu pranggang deng muda-muda
Tu hati deng ontak masih di bawa puru

---------------------------------------------------------

INDONESIA TOP 40



Beking rawoy, beking ta sono
Pa kita didalang oto mikro


Poot ange, bawa puru ange
Itu-itu jo, manganto no !!


----------------------------------------------------------------------------------

JATI DIRI



Dudu sandiri mangada langit
Sibuk rekeng tu bintang-bintang
Sampe timbul pertanyaan
“Kita ini orang Bumi ?”
“Atau orang Planet ?”


-----------------------------------------------------------------------------------

MANTRA CINTA



Dua Bola dapa Lapang
Ampa Bola dapa Spuluh
Satu Liter Satu Jam
Dompet Bangka Pande Bodok
Macam-macam Tai Minya
Jago jago dapa Senang
Cundang dapa Tamang

------------------------------------------------------------------------------------------

MINAHASA UNDERCOVER



Tole deng keke badugem di score
So pastiu deng disko tanah ngoni ?


Tole minung tekila, keke minung long aylen
Masih suka cap tikus deng saguer ngoni ?


Tole deng keke minung sampe muntah-muntah
Mo muntah ubi lei dorang ?


Tole deng keke baku ciong gaya perancis
Awas jang tatigo lidah ngoni dua !


----------------------------------------------------------------------------

NASIONALISME



“Konto sama-sama…

Graakkk !!!”

---------------------------------------------------------------------------------------

NONA-NONA JAMAN SKARANG




Kurang yang besae-besae
Yang mangarti bae itu Cinta

Yang gaga-gaga…..
Cuma tau beking mati itu Cinta

Ta lebe-lebe
Boleh beking saki Jiwa!

-------------------------------------------------------------------------------

ONANI 1



Tu tadi, tu tadi, tu tadi
Tu sana, tu sana, tu sana
Tu tadi, tu sana
Tu sana, tu tadi


Yaaa……..no !!!
Biar jo dang !!!!


--------------------------------------------------------------------

ONANI 2



Sadap nyanda sadap
Barguna nyanda barguna
Senang Susah
Untung Rugi
Puas Tagantong


So parcuma kasiang !
Banya yang kurang senang !


-----------------------------------------------------------------

SMS



“SyG,KmU Lag NgApz ?
Aq KnGen LhO aMa Kmu
Gw Mw KtmU aMa Kmu SyG”



“SyG….D Blz Donk!!!
Plizzz………….
Ini PuLzAku Yg t’Akir LhO!!!”



"Woy,balas kwa kalu ada pulsa !
Somo muntah ubi kita !
Beking malo akang,kita so mangkage !"


-------------------------------------------------------------------------

TAMANG-TAMANG DEKAT



Lala mulu ngoni!!!

Rawoy!!!!!


--------------------------------------------------------------------------


TAMBIO




Cowo, sini kwa !!!

Beli kwa pa kita !!!

Biar lebe gampang deng ada diskon

Ngana musti ada bola ampa

Atau paling rendah bola dua

Nda harga kalu Cuma ngana pe tolor !!!



----------------------------------------------------------------------------------


VALENTINE



Opa Santo, mana yang betul ?
Banya blum tau ngana pe sejarah
Atau memang pura-pura nintau
Atau so sadar mar gengsi


So banya yang kase tau bae-bae
Mar dorang malas malas mo mangarti
Cuma ambe de pe sadap-sadap
Bunga deng coklat dorang tambah alasan


Hari kasih sayang skarang
So nda beda deng hari Halloween
Banya jadi kaum hedon pe ideologi
Korban propaganda cinta tai minya !

Kamis, 23 Oktober 2008

Cerpen Grace O'Nelwan: "Ketika Cupido Belajar Memanah"

Menanti Esok.
Namaku Cupido. Panggil saja aku Abu-abu. Semua penduduk Negeri Awan Biru memanggilku Abu-abu. Karena warnaku memang Abu-abu.
Kini aku berusia 1999 hari. Besok aku genap berumur 2000 hari. Itu berarti aku akan masuk kelas persiapan menjadi Dewa Asmara. Pasti sangat menyenangkan. Bekerja bersama bunda Aphrodite membantu manusia menemukan pasangan jiwanya.
Aku tak sabar lagi.. Besok.. besok… ah… masih sekian ribu detik sebelum besok benar-benar datang.

Kelas Bunda Aphrodite.
Aku datang sepagi-paginya. Ternyata aku bukanlah yang pertama. Cupido-cupido lain yang sudah duduk manis di kelas persiapan. (Pasti manusia merasa heran, karena Cupido bukan hanya satu, tapi banyak.) Ada si Putih yang diam di pojokan, Si Merah dan Hijau yang sedang bercanda, Biru sedang membaca, Kuning sedang memainkan sayapnya. Ruangan ini penuh warna, karena kami para Cupido memang berwarna. (Tidak seperti yang di gambarkan manusia dalam buku-buku mitologinya.) Hmmm, semua Cupido sama tak sabarnya seperti aku. Semua segera ingin bisa ‘memanah’ dengan busur asmara dan anak panah cinta.
Bunda Aphordite datang. Kami semua berusaha tenang. Ah, Bunda cantik sekali pagi ini. Rambut birunya yang bergelombang indah dibiarkan tergerai menebarkan aroma buih laut yang menyengarkan.
“Semua pasti tahu kenapa kalian berada disini”
Kami semua mengangguk, anggukan serangam, terbius kelembutan suara Bunda.
“Yah, kita berada di sini untuk membantu manusia. Membantu mereka menemukan pasangan hatinya, pasangan jiwanya.”
“Mengapa kita harus membantu manusia Bunda, bukankah manusia terkenal pandai?” tanya si Unggu yang duduk di belakangku.
“Manusia memang sangat pandai, tapi untuk urusan hati, manusia tidak berdaya.”


Cerita Bunda Aphrodite tentang Manusia
Jaman dahulu kala, manusia tidak terbagi dan terkotak-kotak seperti sekarang. Tak ada ras, suku dan agama. Tak ada laki-laki dan perempuan. Hanya ada satu jenis manusia, yang disebut androgynus. Manusia jenis ini berkepala 2, bertangan 4, berkaki 4 tapi hanya memiliki 1 buah hati. Bisa dibayangkan betapa kuat dan pintarnya manusia androgynus ini dan dengan hatinya yang utuh, manusia selalu kukuh dalam pendiriannya, tidak plin-plan seperti manusia-manusia sekarang. Kekuatan, kepintaran dan kekukuhannya dalam bertindak membuat para dewa takut dan khawatir, jangan-jangan satu saat nanti manusia akan menguasai para dewa. Karena itu Raja Zeus membelah manusia menjadi 2. Sehingga manusia hanya memiliki 1 kepala, 2 tangan, 2 kaki dan ½ hati. Raja Zeus kemudian memisahkan manusia dan melemparkan mereka kedalam pengembaraan panjang di bumi. Ketika saling terpisah, manusia selalu rindu pada pasangan hatinya. Rindu pada ½ hatinya yang lain. Karena itu dalam setiap pengembaraan manusia, mereka selalu mencari cara untuk dapat bersatu lagi dengan pasangan hatinya. Tersiksa oleh rindu dan mendambakan pasangan hatinya, membuat manusia menjadi lemah (Ada air menggenang di mata Bunda Aphrodite). Dalam kelemahannya manusia kemudian terlalu sering menyerah dengan mengikatkan diri pada potongan hati pertama yang dia temukan, tapi setelah berapa saat, manusia sadar, itu bukanlah pasangan jiwanya. Karena itu seringkali terjadi perceraian diantara manusia. Pernikahan bukan titik akhir dari pencarian pasangan jiwa. Kelemahan ini yang membuat manusia menjadi sering terluka dan menderita. Raja kita, Zeus, merasa bersalah melihat penderitaan manusia. Untuk menebus rasa bersalahnya Zeus menugaskan kita membantu manusia menemukan pasangan hatinya yang paling tepat.

Tangan kanan Bunda Aphrodite kini menggegam sebuah busur indah yang terbuat dari emas dan dengan tali-tali perak yang dijalin dari rumput laut. Tengahnya dihiasi mutiara hijau dan abu-abu.
“Ini adalah Busur Asmara kita yang termasyur. Hanya Cupidolah yang berhak memakainya. Tak ada dewa lain yang dapat menggetarkan tali-tali busur asmara ini.”
Dan kemudian Bunda mengangkat tangan kirinya yang menggengam sepasang anak panah kembar. Bentuknya panjang dan pipih. Ujungnya lancip berwarna pelangi dan diselimuti kabut tipis, beraroma sandalwood.
“Ini adalah panah asmara kembar. Anak panah ini dibuat sepasang-sepasang, tak ada sepasang panah yang sama. Karena manusia hanya memiliki 1 pasangan jiwa.
Busur asmara ini akan dipinjamkan pada kalian selama 1 minggu. Setelah itu kalian akan dievaluasi, bila minggu pertama gagal, kalian akan diberi kesempatan pada minggu kedua, bila kalian gagal lagi, maka kalian akan masuk dalam kelompok “stupid cupid”

Oh, aku tak pernah akan memaafkan diriku kalau sampai aku gagal dalam masa magang menjadi dewa asmara dan menjadi stupid cupid! What a nightmare, kalau sampai itu terjadi. Stupid Cupid adalah gelar yang diberikan pada cupido-cupido pecundang yang gagal melewati magang ‘menentukan pasangan hati.’ Dan biasanya Stupid Cupid harus menunggu 2000 hari lagi sebelum mendapatkan kesempatan menjadi dewa asmara. Dan selama 2000 hari stupid cupid hanya akan menjadi mahluk bersayap tanpa busur dan anak panah. Tanpa kesempatan membuat manusia bahagia. Dan tanpa membahagiakan manusia, cupido tak akan bisa bahagia. Sangat memalukan! Sangat menyedihkan!

Kelas hampir usai. Satu-satu kami berdiri, menerima dengan penuh sukacita, sebuah busur asmara dan sekantong anak panah cinta, buku manual memanah, buku UUM dan AUPH (Undang-undang Memanah dan Aturan Umum Penyatuan Hati).
“Ingat, teliti dulu sebelum memanah. Check en recheck itu perlu. Salah memasangkan hati maka manusia akan menderita, dan penderitaan manusia kan menyayat hatimu juga. Jangan buat kesalahan itu! Yang terbaik berhak mendapatkan Dewa Zeus Award. Sampai jumpa pada evaluasi memanah, minggu depan. Selamat bekerja”.
Bunda Aphroditepun berlalu….
Rambut birunya bergoyang-goyang, busur asmara dan panah cinta di bahunya turut bergoyang…

Minggu Memanah
Aku sangat bahagia. Ingin kubantu manusia menemukan pasangan hatinya yang paling tepat. Ingin kubantu Raja Zeus tercinta, mengurangi rasa bersalahnya, dengan mengutus aku, si Abu-abu. Cupido yang tepat, Cupido yang tak akan berbuat kesalahan.
Aku harus berhati-hati dalam mencocokan pasangan. Aku harus menemukan potongan-potongan yang paling tepat… yah ..yang paling tepat.
Alangkah menyenangkan membuat manusia bahagia dan Bunda Aphrodite bangga.
Aku kini melayang-layang, bersembunyi di awan-awan. Mengintip manusia… aha.. ini dia, satu pasangan telah kutemukan. Kucocokan dengan catatan, kucocokan dengan potongan hati, mereka klop. Anakpanahpun kuluncurkan…
Hati-hati ku bidikan. Tepat pada sasaran… aku berhasil…!!! Manusia kini kembali menjadi 2 kepala, 4 tangan, 4 kaki, dan 1 hati. Sempurna…!!! PERFECTO!!!
Kini pasangan yang lain juga… anak panah berujung pelangi menancap di hati… la..la..la.. aku bernyanyi. Trilili aku menari… Dewa Zeus Award… pasti jadi miliku.


Kekacauan di Negeri Manusia.
Di sebuah Gym (Kisah Astrid)
Sambil berjalan di atas treadmill, Asrid memandang kelas body builder yang hanya dibatasi kaca tembus pandang. Ada Ajie di sana. Ajie memang tampan. Badannya atletis tak berlebihan. Tak ada otot-otot yang terlalu besar, tapi keseluruhan tubuhnya tegap dan kencang. Dia selalu tersenyum, dan matanya sangat indah. Ajie sangat ramah dan penuh perhatian. Tak tahu kapan rasa itu datang, tiba-tiba saja Asrid menemukan dirinya jatuh cinta pada Ajie. Dia yakin Ajiepun mencintainya, tapi mungkin Ajie malu untuk mengakuinya. Tapi Aku harus mendapat kepastian perasaan Ajie. Asridpun berlari penuh semangat diatas treadmillnya.
Melihat Ajie keluar dari ruangan. Asridpun berhenti berlari, dan dengan handuk kecil di bahunya Asrid mengejar Ajie. Pasti Ajie menuju café di lantai bawah. Baru 7 anak tangga yang dia lewati, dilihatnya Ajie, tapi dia tidak sendiri. Ajie sedang berciuman mesra dengan Rodi, istruktur senamnya. Bibir mereka bertaut dan tubuh mereka melekat erat. Asrid membeku di tempatnya… ah Ajieku ternyata homo!!!!



Di sebuah Gereja: (Kisah Pendeta Dian)
Tiba-tiba Ketua Jemaat, memanggil seluruh majelis jemaat untuk rapat mendadak. Sore itu semua telah hadir di ruangan konsistori Gereja. Rapat ini diadakan untuk membicarakan persoalan pendeta Diana. Kabar baru yang terdengar, Pendeta Diana menjalin hubungan khusus dengan Bernard, seorang narapidana yang divonis 15 tahun penjara, karena tuduhan membunuh kakaknya. Pendeta Diana memang bertugas untuk memimpin ibadah-ibadah di penjara. Dan ternyata, di penjara pula pendeta Diana, jatuh hati pada Bernard.
Suara 1: Jadi, tindakan apa yang harus kita ambil?
Suara 2: Pecat saja
Suara 1: itu bukan wewenang kita, tapi itu wewenang Sinode
Suara 3:Kalau begitu bawa saja persoalannya ke Sinode
Suara 4: Kucilkan saja dari Gereja, itu perbuatan yang memalukan
Suara 2: Diskors dulu, tidak bisa memimpin ibadah, bahkan tidak boleh masuk gereja!
Suara 1: bagaimana kalau kita melakukan pemilihan suara. Masing-masing menuliskan gajaran apa yang paling pantas untuk pendeta Diana…
Koor : Setuju!!!!
Kini para majelis dan para pendeta pelayan sibuk mencoret-coret secarik kertas….
Entah apa putusan mereka.


Di sebuah Café: (Kisah Arimbi dan Anita)
Dipojok O La la Café, dua wanita cantik duduk. Keduanya berambut panjang sebahu, yang satu di cat burgundy, yang lainnya di cat dark blue. Sepotong black forest dan sepiring french fries masih utuh di depan mereka. Begitu juga dengan frappucino milik Arimbi dan hot chocolate yang sekarang telah menjadi cold chocolate, milik Anita, belum tersentuh sama sekali. Itu karena tangan-tangan Arimbi dan Anita sangat sibuk. Sibuk bergegaman dan membelai di bawah meja. Tak ada suara, karena semua komunikasi dilakukan lewat mata. Dan kedua pasang mata biru dan coklat, karena efek kontak lens itu, saling mengerti, bahwa cinta adalah milik mereka.

Di sebuah RSJ (Kisah Dokter Bayu)
+ Apa???? Gak masuk di akal? Dia kan dokter muda tercakep serumah sakit ini.
tapi ini benar-benar terjadi
+ dari mana kamu dapat gosip murahan ini
kemarin aku sempat mendegar waktu dokter Bayu, berbicara dengan dokter Tio.
+ oh My my… dunia benar-benar sudah gila. Apa kurang banyak dokter atau suster yang cantik di rumah sakit ini, sampai-sampai dokter kita jatuh cinta ke orang gila…
orang gila yang juga cantik…
+ tetap saja gila…
tetap saja cantik, dan dokter Bayu tetap saja mencintainya.

Di sebuah Rumah Mewah (Kisah Meta)
Mama: Meta, sudah berkali-kali mama ingatkan, Allan bukanlah laki-laki yang pantas untukmu!
Meta: Kenapa gak pantas, ma? Karena ibunya hanya seorang tukang pijat?
Mama: Bukan itu saja, tapi kamu dari kecil sudah ditunangkan dengan Bobby.
Meta: Loh,ma, akukan gak pernah minta untuk ditunangkan dengan bobby.
Mama: Meta!!!!
Meta: Mama, aku mencintai Allan. Dan sampai kapanpun akan tetap mencintai Allan
Mama: Kamu boleh 1000 kali mencintai Allan, mencintainya sampai akhir hidup, tapi kamu tak akan pernah menikah dengannya. Kau boleh pilih, menikahi Bobby, atau tinggalkan rumah ini.

Di rumah Baba Liem (Kisah Han)
: kamu itu anak laki-laki satunya dalam keluarga, kamu harus menikah dengan Mei-lan
- Tapi pa, aku mencintai Keke, bukan Mei-Lan
: Tidak bisa Han, kamu harus tetap menikah dengan Mei-Lan. Jangan membantah papa. Apa kata paman A San kalau kamu membatalkan pertunangan ini.
- Tapi Pa….
: Tidak ada tapi-tapian… Paman A San sudah banyak membantu kita.

Di sebuah Pesantren (Kisah Ustad Yus)
Apakah aku bersalah kalau aku mencintai Ayu, ya Allah. Bukankan cinta adalah anugrahmu? Dan kenapa Anugrah sangat menyakitkan seperti ini.
Aku mencintaiMu yah Allah. Tapi aku juga mencintai ciptaanMu. Dan Ayu.., Ida Ayu Oka Laksmini adalah ciptaanMu yang kucintai. Aku mencintai kelembutannya, kebaikannya dan keindahannya. Tapi dia Hindu….
Apakah aku bersalah padaMu kalau ku-impikan membangun rumah tangga bahagia bersamanya? Allahku kalau cinta adalah anugerah, kenapa anugerah harus se-membingungkan ini? Apa yang harus kukatakan pada santri-santri di sini jika mereka mengetahui rahasia hatiku? Apakah aku harus jujur dengan perasaanku, ataukah harus kututupi demi sebuah kedamaian?
.

Di sebuah sekolah (Kisah Bu Lian)
8 tahun, choy..!!! Mereka beda 8 tahun…
Oh yah???
Iyah… Armen itu, mantan murid Bu Lian.
Oh… Armen yang anak 99 itu?
Iya.. Armen yang itu..
Mungkin Armen hanya mengejar duit Bu Lian…
Tidak mungkin!!!
Mungkin saja… Bu Lian sudah tua, lagian Armen bukan laki-laki jelek.
Kalau soal uang.. tidak mungkin… Armen kan tidak miskin…
Atau mungkin… Armen kena guna-guna Bu Lian..??
Guna-guna?? Hari gini???

Evaluasi para Cupido
Hari ini Evaluasi memanah.
Bunda Aphrodite akan memberikan hasil evaluasi memanah kami minggu ini. Jadwalku bertemu Bunda jam 10 pagi, sesudah Cupido kuning. Tapi aku sudah berada di depan ruangan Bunda Aphrodite jam 9.17 pagi. Aku tak sabar dan sangat tak sabar untuk mendengar hasil evaluasi Bunda. Aku sangat yakin bahwa aku akan lulus dengan pujian. Aku sudah bekerja keras sepanjang minggu. Pasti Bunda Aphrodite akan sangat bangga dengan hasil kerjaku. Pasangan hati yang aku persatukan tak akan mungkin meleset.

Kulihat Kuning keluar dari ruangan Bunda. Wajahnya menunjukan expresi sedih.
“Mengapa” tanyaku prihatin

Dia memperlihatkan hasil evaluasinya. Dia lulus dengan nilai lumayan; SCB (Sudah Cukup Baik).
“Dari 10 pasangan yang kupasangkan, ada 2 yang bukan pasangan hatinya.”

“Paling tidak, kamu lolos jadi Dewa Asmara..” ku coba menghiburnya dengan tanpa bisa menyembunyikan kegembiraanku. Kuning yang terpandai diantara kami hanya mendapat nilai SCB. Kuning berhasil lolos… tapi bukan yang terbaik…
Aku tersenyum… kasihan Kuning. Membuat 2 kesalahan fatal.. dan aku.. ho..ho.. aku si Abu-abu yang sangat teliti. Kesalahan seperti itu tak akan terjadi.

Aku masuk ke ruangan Bunda dengan kepercayaan diri penuh. Ruangan Bunda yang sangat melegenda. Karena dari ruangan inilah kami diputuskan untuk menjadi ‘the real Dewa Asmara’ atau hanya sebatas ‘Stupid Cupid’ yang pasti terlihat sangat stupid!!!
Bunda duduk di atas kursi yang terbuat dari kerang mutiara. Mejanya yang berwarna – warni terbuat dari potongan pelangi. Cahaya merah, kuning, birunya berpendar-pendar indah. Di depan meja Bunda ada sebuah kursi indah yang dudukannya dianyam dari rumput laut dan awan-awan putih ditumpuk-tumpuk menjadi batalan empuk.
Aku duduk di kursi itu.

Bunda Aphordite masih menundukan wajahnya, mempelajari hasil evaluasiku. Aku masih tersenyum sampai Bunda mengangkat wajahnya…

“Apa-apaan ini? Kekacauan apa yang kamu perbuat?”
Wajah Bunda yang cantik terlihat sangat masam, membuat senyumku langsung surut.
Kekacauan?? Aku tidak mengerti..
“Abu-abu, bukan hanya tidak ada satu pasanganpun yang sesuai, kamu bahkan telah membuat gempar negeri manusia..”

“Bunda, aku benar-benar tidak mengerti. Dengan sangat teliti aku memasangkan potongan-potongan hati manusia. Aku telah berusaha menggabungkan potongan hati yang paling tepat… tapi mengapa aku dikatakan pembuat onar yang menggemparkan negeri manusia?”

“Abu-abu, kita lihat kasus Arimbi dan Anita, keduanya adalah perempuan. Ajie dan Rodi, keduanya lelaki, kau tidak bisa memasangkan mereka. Pasangan itu harus laki-laki dan perempuan. Kasus Han juga, kenapa tak kau pasangkan Han dengan Mei- Lan. Mereka cocok dan dari etnik yang sama. Bu Lian, dia terlalu tua untuk Armen. Menurut peraturan yang tidak tertulis laki-laki harus lebih tua dari perempuan. Kau juga membuat ibu Meta pusing karena memasangkan Meta dengan Allan. Meta terlalu kaya untuk Allan. Dan kasus Ustadz Yus, apa kau mau membuat dia dibenci para santrinya? atau kamu mau perang? Kau membuat semuanya kacau, tak sesuai pakem… tak sesuai aturan umum yang berlaku.” Mata Bunda Aphrodite menatapku tajam..

“Tapi Bunda, aku sudah sangat berhati-hati mempelajari UUM dan AUPH. Tak kutemukan pasal yang mengatakan bahwa pasangan hati itu harus hetrogen, tak ada pasal yang menyebutkan soal suku dan strata sosial, tak ada pasal yang menyebutkan gradasi kecantikan, tak ada pasal yang menyebutkan usia, tak ada pasal yang menyebutkan soal agama, tak ada pasal yang menyebutkan soal kaya - miskin. Dan Aku sudah sangat hati-hati dan berkali-kali menguji kecocokan pasangan sebelum akhirnya memanahkan panah cinta, dan mereka benar-benar pasangan jiwanya.”

“Abu-abu, kamu benar soal isi UUM dan AUPH. Tapi seharusnya kamu lebih bayak melihat dan mendengar dari senior-seniormu. Benar, tak ada hukum atau pasal yang mengharuskan pasangan itu hetrogen, sama suku, ras atau agamanya. Tak ada juga pasal yang menulis soal penetapan usia tiap pasangan. Tapi itu terangkum dalam hukum-hukum kuno yang tidak tertulis. Hukum yang lebih kuat daripada hukum yang tertulis. Dan karena itu… kita bisa kompromi, bila pasangan hatinya sudah sedikit ‘pas’ walaupun tidak benar-benar pas…kita dapat mempersatukan mereka. Kita bisa memodifikasi sedikit. Bisa kita tutupi di sana-sini.”

“Tapi Bunda, bila pasangan hati saja bisa dimanipulasi, bagaimana kita mengajarkan kemurnian cinta pada manusia? Apakah menjadi Dewa Asmara harus pintar memanipulasi? Apakah kini, kita para Dewa, jadi seperti manusia. Ikut menyokong perbedaan strata, ras dan kelas, ikut membedakan warna-warna….?” Aku coba beradu argumentasi dengan Bunda.

“Kau akan mengerti… satu hari nanti kau akan mengerti, Abu-abu.” Kali ini tatapan Bunda melembut.

Aku keluar dari ruangan Bunda dengan HML di tanganku. Nilai yang paling menyedihkan (Harus Mencoba Lagi). Jangankan Dewa Zeus Award, luluspun aku tidak. Bukan itu saja. Dalam dua hari ini aku juga harus mengerjakan hal yang paling tidak disenangi dan yang paling dibenci oleh semua Cupido; mencabut panah asmara! Kasihan manusia…

Mencabut panah-panah dan hati-hati yang terluka
Abu-abu terpaksa mencabut semua anak panah cinta yang terlajur melesat dari busur asmaranya. Dibuka lagi buku UUM dan AUHP, mencari pembenaran lewat hukum-hukum yang tertulis rapi. Semua pasal membenarkan tindakannya. Tapi toh dia tetap saja salah. Percuma saja ada UUM dan AUHP, karena yang paling penting adalah peraturan umum yang berlaku… walaupun tak tertulis, tapi peraturan-peraturan ini yang dipakai.
Kini, Abu-abu pergi kesetiap pasangan yang telah dipersatukannya. Kali ini, dia harus mencabut setiap anak panah yang telah ditancapkannya… Tapi oh… dia tidak boleh mencabut kedua anak panah kembar sekaligus. Dia hanya boleh mencabut satu anak panah dari setiap pasangan, (Dia juga baru diberi tahu, saat dia mencabut 1 anak panah dari satu pasangan, ada luka tak berdarah yang tertinggal di dada, tapi yang merasakan sakit adalah orang yang panahnya tidak dicabut)
Dan dari setiap anak panah yang dicabutnya, abu-abu juga merasakan kepedihan. Kepedihan karena perasaan bersalah. Itu konsekwensinya.
Tapi dia hanya ingin lulus ‘ujian’ memanah dan menyatukan hati’
Kalau dia tidak lulus, apa yang harus dia kerjakan? Karena sebagai Cupido, tugas satu-satunya adalah memasangkan dan menyatukan hati.. Tak ada yang lain.

Maaf manusia….
Aku terpaksa harus memasangkan dan menyatukan hati kalian menurut peraturan ‘tak tertulis yang berlaku sejak dahulu kala’.. Kalau ada hati yang tersakiti, jangan salahkan cinta. Cinta tak pernah salah. Cupido yang salah…Tapi.. sekali lagi.. aku hanya ingin lulus ujian..
*****

(Tomohon, November 2007: malam setelah diskusi)