Minggu, 05 Oktober 2008

Esei Benni E. Matindas* : "Negara Gagal"

Menyusul peristiwa rusuh massa yang menimpa para mahasiswa sebuah sekolah tinggi theologi di Jakarta Timur belum lama ini, sebuah stasiun televisi memasukkan warta itu dalam rubrik tetapnya berupa interaksi dengan pemirsa yang memilih sendiri berita yang ingin ditayangkan ulang. Telepon berdering. Dan suara seorang perempuan terdengar memberi salam. Ia seorang ibu, tinggal di Bogor.

Menanggapi peristiwa di STT Setia Arastamar itu, dan peristiwa-peristiwa sejenis yang nyaris rutin, misalnya seorang Camat yang ikut dengan massa yang menuntut penutupan sebuah gereja, si ibu menyimpulkan: “Negara ini sudah gagal!”

Tak ada yang lebih telak, tepat, utama, dan penting, daripada simpulan demikian dalam menanggapi fakta menjadi rutinnya perlakuan tak adil atas kaum minoritas.

Kita sama tahu raison d’etre atau that’s why adanya Negara yang dijelaskan Hobbes dan kemudian disempurnakan oleh banyak pemikir lain termasuk Sumual: Setiap manusia dilahirkan dengan hak asasi; termasuk hak mempertahankan hidupnya dan miliknya dari serangan orang lain. Tapi usaha pertahanan diri itu tak boleh sepenuhnya diserahkan kepada warga, karena demi menjamin keberhasilan pertahanan tersebut setiap orang akan saling curiga, menyerang lebih dulu, membangun kekuasaan sendiri-sendiri tanpa batas, atau mengusahakan bala bantuan sebanyaknya dari luar. Dan itu niscaya menjurus pada bellum omnium contra omnes — perang semua melawan semua. Maka, semua warga itu mengadakan kontrak untuk membentuk satu badan pemegang kekuasaan bersama — yakni Negara — dan memilih pemerintah serta organ lain buat menyelenggarakan negara itu. Fungsi negara yang utama dan minimal adalah menjaga keamanan warga beserta hak-hak mereka, dan harus adil agar kekuasaan itu tak dimanfaatkan kelompok warga lainnya untuk hanya menguntungkan keamanan pihak mereka. Karenanya, negara harus dinilai gagal bila fungsi minimal — keamanan dan keadilan — itu kenyataannya tak tertangani.

Sampai di situ, di tataran konsep, siapapun (termasuk ibu penelepon tadi) setujuan. Tetapi praktiknya yang selalu jadi lain itu semestinya menyadarkan siapapun bahwasanya ada tataran konseptual yang lain lagi, yang selama ini mengarahkan praktikal aktual.

Lain? Ya, misalnya, di tataran “iman”. Di sini ada “perintah agama” yang, walau bertentangan dengan keharusan menjaga keamanan dan keadilan, dinilai “harus ditunaikan”. Amanat agama melampaui harkat hukum negara maupun negara itu sendiri. Dan penghayatan iman serta pengamalannya yang seperti ini bukan saja dalam satu agama tertentu di wilayah negara tertentu. Juga tak hanya di masa tertentu, seperti penyalahgunaan kekuasaan gereja untuk menebar teror dan ketidakadilan di sepanjang Zaman Pertengahan, atau Afghanistan di masa rezim Taliban. Para penganut Budhisme di Thailand dan Srilanka menyesak kaum minoritas Islam dan Hindu. Para penganut Yudaisme di Israel, pada hari Sabath, memukuli orang-orang di jalan yang tidak pergi ke sinagoge. Sejumlah orang Hindu di India berlomba membunuh warga Muslim dan membakar masjid.

Masalah ini hanya dapat selesai secara tuntas bila masyarakat telah mencapai taraf kecerdasan memadai. Lebih cerdas dalam beragama. Lebih tahu mana wujud takwa yang utama di mata Allah, yakni meneladani sifat-sifatNya yang rahmani dan rahimi. Bukan mengutamakan lain-lain berdasar bermacam tafsir manusia. Rahmani dan rahimi, pengasih dan penyayang. Jauh dari laku kekerasan dan ketidakadilan.

Untuk mencapai taraf kecerdasan memadai itu pun adalah fungsi negara. Bukan fungsi minimal, melainkan fungsi ideal — yang seharusnya sudah beres, mengingat kebudayaan homo sapiens ini sudah menggauli negara dan agama selama beribu tahun. Fungsi ideal ini — yang dirumuskan lewat bermacam kata-kata oleh Plato, Al-Farabi, Martin Luther dan Rousseau — masih gagal diperankan negara. Tepatnya: bangsa. Bangsa-bangsa.

Warga bangsa belum pernah berhasil mengajukan konsep negara yang sebenarnya — yang antaranya mengenai fungsi minimal sampai fungsi ideal Negara — sehingga tak pernah bisa mencapai kondisi ideal itu. Yang kendati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa — melalui International Covenan on Economic, Social and Culture Rights (ICESCR) — sebetulnya sudah pula diabsahkan sebagai kewajiban minimal suatu negara.

Negara harus menjadi lokomotif dari apa yang oleh UUD 45 dirumus “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Termasuk di dalamnya: kehidupan beragama yang cerdas. Lebih mampu mensistematisir ajaran agama — jelas mana inti dan mana implementasi berdasar kondisi situasional, kultural, historis — sehingga lebih ajeg, konsisten, menumbuhkan takwa. Dengan demikian, sebagai inti dan dasar, agama tetap bisa diposisikan pada harkat lebih tinggi di atas hukum dan negara, dan secara ajeg serta konsisten. Dengan kecerdasan pun maka setiap insan dapat mencapai kemajuan puncak tanpa harus meluncur ke sekularisme dan hambar imannya.

Beragama secara lebih cerdas, dan seterusnya membina agama yang mencerdaskan generasi-generasi selanjutnya.



*) Benni E.Matindas,
Filsuf Minahasa, penulis buku “Negara Sebenarnya”.

Cerpen Cyanthi Manoppo: "Cincin Kaweng..."

Alkisah hiduplah Lintje dan Antje di desa Tomohon[1]. Antje lahir di tahun 50-an. Tiga tahun sesudahnya Lintje dilahirkan. Pada waktu itu, para tetua desa dan para orang tua lagi kegandrungan menamai anaknya dengan akhiran..-tje (Baca : -Ce). Selain Antje ada adiknya Martje dan Vence. Lintje memiliki 3 orang kakak yakni Katotje, Dortje dan Suntje. Tambahan pula teman sepermainan mereka si Sartje, Yantje dan Mintje. Maka, setiap hari Ibu Guru memanggil daftar hadir siswanya : Katoce, Dorce, Marce, Ance, Sarce, Yance, Lince, Mince, Vince, Sunce… Ya, berhubung usia mereka berdekatan dan keterbatasan prasarana, semua generasi –ce –ce di desa itu belajar bersama-sama. Rukun dan damai.
Lintje dan Antje selalu bersama-sama.
Rumah mereka berdekatan, orang tua mereka berkawan dan mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak SD yang jaraknya hanya 15 menit jalan kaki dari rumah hingga masuk SMP yang jaraknya 1 jam lebih 15 menit jalan kaki dari rumah. Maka bisa di duga mereka akhirnya menikah juga. Hidup rukun dan damai.
Tapi, Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.

Tsunami I
Saat itu olahraga adu semangat yang paling ramai adalah mengadu Ayam milik siapa yang paling jago di seantero kampung. Mereka yang ketagihan seperti saling menghormati norma baru yakni yang memiliki ayam paling jago kira-kira bisa disamakan dengan yang paling jago di kampung. Walah…padahal andil empunya para ayam jago paling banyak meneriaki para ayam dan memberi mereka makanan lebih dari takaran biasa. Tak tanggung-tanggung taruhannya dari Jagung sekarung sampai uang ratusan ribu rupiah.

Sebenarnya niat awal Antje menyabung ayam malam minggu itu bukanlah niat jahat. Antje bermaksud memberikan hadiah istimewa pas hari Valentin 14 Februari yang tinggal seminggu lagi, pada juwita puspita hatinya Lintje : membelikan coklat berbentuk buah hati bertuliskan I Love You yang hanya dijual di pertokoan kota Manado. Berhubung masih termasuk barang langka di kampung, biaya transportasi ditambah harga beli coklat setara dengan tiga kali hasil jualan di pasar.
Apa pasal ? Yach… seperti sikap dasar manusia, kalau ada cara mudah menggapai sesuatu mengapa tidak ? Tapi Antje salah perhitungan ketika dalam menyambung ayam niat awalnya berubah di tengah jalan. Hari itu jualan para pedagang sayuran laris manis, harga taruhan pun naik setinggi langit. Antje tak mau kalah dan kecoplosan menawar cincin kawin emasnya.
“Astaganaga…Antje, nyanda salah ngana se gadai itu cincin kaweng ?” teriak Ventje adik kandung Antje.
“Hush..kita pe ayam paling jago. Tenang jo kwa, nanti kita kase bagian MAR jangan bilang pa maitua neh !” seru Antje tak kalah semangat.

Roda kehidupan tidak ada yang tahu,
kata pujangga.
Kegagalan adalah awal kesuksesan,
kata filsuf.
Bahtera rumah tangga pasti ada riak kecil,
tutur Ventje selaku saksi, ikut nyambung
Demi Langit dan Bumi, nyanda sengaja cintaku
ratap Antje
Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara,
tangis Lintje

Menjual cincin kawin untuk menebus kekalahan menyambung ayam bukanlah hanya riak kecil bagi seorang istri seperti Lintje. Hilang sudah cokelat valentine idaman malahan Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Lintje.
Masalah Cincin Kaweng di keluarga Antje dan Lintje diredakan oleh si kecil Celia. Hhmm…sejauh ingatku, akulah yang mendamaikan Mama Lintje dan Papa Antje. Tepat seminggu perang dingin, tepat hari kasih sayang sedunia, aku yang masih cadel dan baru belajar menulis memberikan surat bagi mama dan papa.
Isi suratkku :
===============================================================
14 Februari,
Mama LinCE + Papa AnCE = ade CELiA
Celia sayang pa mama deng papa. Baku bae jo neh ??
===============================================================
Sampai sekarang, suratku dibingkai dan dipajang di ruang tamu. Padahal tulisannya cakar ayam alias tidak karuan. Haha..Dewasa ini aku baru tahu ternyata Om Ventje yang cerdik sangat berjasa mendamaikan mama papa. Isi suratnya diajarai Om Ventje selama seminggu penuh maka, selama 7 hari berturut-turut setiap selesai latihan menulis surat, Celia kecil mendapatkan permen Hopjes [2]
Masalah penggadaian cincin kawin demi valentines day akhirnya reda di hari valentines. Kembali pada kewajaran, Antje dan Lintje hidup rukun dan damai.
Sekali lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.
Lintje dan Antje hampir tidak pernah memiliki riak kecil dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Sebagai gantinya mereka langsung menghadapi Tsunami dan kali ini Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Antje.

Tsunami II
Aku berumur 17 tahun kala itu. Celia, si keke yang berkulit putih menjadi bintang kelas di sekolahan bertekad melanjutkan belajar di kuliahan di ibukota. Sebagai anak semata wayang, mama Lintje dan papa Antje sangat besemangat untuk menyaksikan Celia bisa meraih gelar insinyur. Hanya saja tekad dan semangat harus bertempur dengan uang. Pertempuran yang sengit, dimana anak usia sekolah dengan keadaan ekonomi keluarga pas-pasan kalau tidak mau disebut orang miskin, pastilah tidak menyanggupi biaya spp, buku cetak, transport pergi-pulang kampung-kota-kampung. Belum lagi biaya tak terduga lain-lain.
Berdasarkan musyawarah tertutup - Bapak, Ibu dan Anak. Mama memutuskan : menjual cincin kawin untuk biaya kuliahku. Papa yang tahu memainkan perannya membuat mama harus sukarela menjual barang kesayangannya. Toh, cincin itu sudah tidak ada pasangannya, bujuk papa. Toh, tanpa cincin itu kita saling mencintai sampai tua, rayu papa.
Akhirnya waktunya tiba. Om Ventje datang hendak membeli cincin kawin mama.
Sudah satu jam. Tapi, cincin itu tidak bisa terlepas dari jarimanis mama.
“Aduh..Vence, kita nyanda batowo kasiang. Pe setengah mati skali, nyanda tacabu ini cincin kaweng “ seraya berusaha memutar, menarik, me…, me…, menarik cincin kawinnya
“Lince dapa lia kwa..riki so merah do ngana pe jare manis. Santai jo”
Waktu terus berdetak dan tak pernah mau berhenti
Detik ke-60 menjadi menit
Menit ke-60 menjadi jam
Dan jam ke-3, dentang itu mengundang Tsunami
“Mama, so basangaja sto kang ? Papa nda abis pikir, masa cuma mo sekaluar itu barang spanggal so tiga jam ? “
“Aduh.. Papa jang asal-asal malontok. Tanya kwa pa Vence, so goso sabong, minyak goreng, minyak kalapa, minyak tawon, nyanda talapas ini cincin”
“Papa jang baku sedu..Mo apa itu peda ? Aaaahhhh…mama nimau !! “
Hari Jumat, kantor perguruan tinggi hanya buka setengah hari. Karena itu papa jadi tidak sabaran dengan usaha mama melepas cincin kawin dari jari manisnya. Papa sudah mengatur agenda bahwa hari itu juga, pembayaran awal kuliahku harus terjadi dan papa termasuk orang yang tidak mau mengubah apa yang sudah direncanakan.

17 tahun dibesarkan mama dan papa, aku tentu saja mengenal mereka lebih dalam. Peda [3] itu hendak digunakan papa untuk memotong cincin emas yang sangat lengket di jari manis mama. Tentu saja wanita separuh baya seperti mama sangat ketakutan membayangkan bahwa jari manisnya bisa ikut putus dalam sekali tebas. Mama menangis keras dan mengulang kalimat yang sama dengan 13 tahun lalu saat Tsunami pertama melanda, “Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara”
Itulah pertama kalinya aku terpikir, mungkin tanpa Cincin Kawin sebuah keluarga justru tidak akan pernah terpikir tentang perceraian.
Masalah cincin kawin kali itu diselesaikan si ABG Celia dan Om Ventje. Om Ventje membawaku mengikuti tes masuk gratis untuk siswa berprestasi. Aku masuk sebagai 5 besar dan memberi mama waktu 6 bulan atau sama dengan 1 semester untuk menurunkan berat badan hingga jari manisnya menjadi lebih ramping dan tanpa ditebas dengan parang, cincin kawin itu bisa dikeluarkan dan dijual oleh Om Ventje.
Siklus hidup manusia memainkan jemarinya.
Selesai kuliah, ditanya kapan kerja
Sementara kerja, ditanya kapan menikah
Sebagai Psikolog, Aku tentu menyadari kehendak mama dan papa untuk segera menimang cucu. Sebagai tameng agar tidak dipaksa untuk segera menikah, aku mengatakan pada mama dan papa bahwa aku benarlah serius hanya akan menikah dengan pria yang mencintai dan menerimaku apa adanya. Termasuk menerima kehendak anehku, menikah tanpa pernik Cincin Kawin.
Semuanya baik-baik saja. Aku hidup rukun dan damai dengan keluarga, teman, kolega, pasien… dan kekasih di belahan benua yang lain.
Lagi-lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak

Tsunami III
Tepat Valentines Day, 14 Februari. Tiba saatnya Aku harus menanggulangi Tsunami ku sendiri.
Anaknya tante Martjee dan om Vintje tiba-tiba datang di tempat praktek, bukan kenalan biasa.
Marvin, pacarku semenjak SMU muncul sambil membawa gelar Master ekonomi dan pilihan kado di kedua tangannya. Dia memang selalu lebih pintar dari aku, to the point, tanpa basa basi dan sama-sama aneh kata sebagian orang.
“Celia…pilih yang mana ? coklat valentine untuk pernikahan ATAU cincin untuk persahabatan”
Haha…Celia yang anti dengan aksesoris bernama cincin tidak mungkin memilih barang itu kan ? Kurasakan tsunami ini bukan gemuruh yang meluap marah, tapi debar jantung kegugupan dan luapan kebahagiaan, karena terjawab sudah salah satu permohonan doa: Semoga, akulah empunya tulang rusuknya yang konon hilang satu.
Begitu tanganku menyentuh coklat valentine, Marvin mendekapku erat sambil berbisik :
Honey…
In the long run we are all dead[4],
In the short run we will marry!!

Menyambut hari ke-empat belas, di bulan kedua, tahun 2005



________________________________________
[1] Kota Tomohon dicapai melalui transpotasi darat 45 menit dari kota Manado, ibukota Sulawesi Utara
[2] Permen yang paling terkenal di Tomohon pada tahun 1960-an
[3] Parang, semacam pisau besar
[4] kalimat salah satu ekonom dunia

Rabu, 17 September 2008

A JOURNEY OF JOY, Oleh: Hans Liberty Makalew

Sebuah Liturgi



(Doa Pembukaan)

(Puji-pujian oleh jemaat)

(masuk iblis)
Iblis : Beking apa di sini?
Mo ba apa ngoni di sini?
Eh! Ngana! Kiapa ngana di sini? (sambil menunjuk ke salah seorang jemaat)
Io! Ngana!
For apa ngana kamari!?
Suara : Ibadah. . .
Iblis : Ibadah?! Ibadah pa sapa leh?!
Hari gini, Masih pake yang ba-bagini? Basi tau!
Ibadah ini kan, cuma tradisi.
Yang artinya, nyanda penting!
Yang penting kan, itu . . . apa kote?. . . Eee. . . iman.
Io, iman!
Lagian kan, tu ibadah yang babagini kwa cuma ja beking fugado jo.
Io to?
(masuk malaikat)
Iblis : (menoleh kearah malaikat)
Huuuh! . . . napa leh pengacau, so ada . . .
Beking apa leh ngana kamari? (kepada malaikat)
Ngana do’ kurang da iko-iko pa kita eh!
Kiapa, naksir?
Malaikat : Eh! So jaga tembus di tampa bagini ngana e?!
Iblis : Oh io. . . Skarang, tampa mana kong kita nimbole tumbus. . .
Mo rumah basar, mo rumah kacili, mo di utang, mo di kampung, mo di kota, mo di pasar, mo di mol, mo di internet, mo di hendphon, mo di tampa-tampa ibadah, mo di mana ke’, samua kita pigi akang!
Malaikat : Surga dang?!
Iblis : Lala mulu ngana!
De pe inti kan, cuma manusia . . .
Kita pe tujuan kan ngana so tau!
Malaikat : Mar, kan kalu di tampa bagini ngana salalu nyanda pernah untung.
Iblis : Apa?
Eh! Lamu! Coba ngana lia tu di blakang sana. Tu anak dua dari tadi kurang da bermain-bermain HP.
Napa le tu tiga nona sana dari tadi cuma da ba karlota trus.
Tu nyong sana kumang somo ta cabu de pe mata da haga-haga tu parampuang-parampuang pasung.
Sini! eh... ngana lia tu mache sana! De pe dalam hati dari tadi cuma, ‘so dapa lia gaga kita nyanda e?. . . Aduh talalu sadiki kote kita pe smengken. . .’
Tu paitua sana kumang, dia ada ganu-ganu pa itu pache sana.
Samua dorang pe pikiran nyanda di ibadah!
Yang dorang pikir cuma. . . kita. . .kita. . .kita. . .trus.
Narsis!
Tu cinta kasih yang ngana da bangga-banggakan, dorang cuma jaga pake for dorang pe diri sandiri.
Jadi, biar ngana mo bantu le, so nya’ ngaruh.
Malaikat : Eh, mar ngana musti inga itu kasih karunia dari Yesus Kristus nyanda akan pernah mo setinggal pa dorang.
Iblis : Adoh, bage di mana e. (berpikir)
Io no, kita le tau samua tu ngana pe bos pe karya.
Mar, ngana lia ini dunia ini skarang.
Sapa yang merajalela?
Bu’!!!
Malaikat : Bu’? (kebingungan)
Iblis : Kita, noh!
Dunia skarang geger dengan teror, perang, deng kerusuhan.
Blum lagi itu praktek-praktek mesum, bahugel, narkoba, miras, traficking, korupsi, pancuri, kolusi, baruci, dola-dola orang, deng laeng sebagainya yang terangkum dalam dosa.
Malaikat : Mar, samua itu so nda akan bertahan lama.
Iblis : Heh! di Buser, di Patroli, di Derap Hukum, Delik, Dunia Dalam Berita, Sekilas Info, Breking Nyuws, Fenomena, berita-berita di Indovision apa le e...
Mo di koran-koran, majalah, tabloit, mo di buku-buku sejarah!
Samua kita pe karya yang di bicarakan, kong tiap hari ada.
Malaikat : Mar, ngana nyanda akan pernah menyamai Yesus Kristus.
Iblis : Aaargh...salah!
Dia itu yang nyanda akan pernah mo sama deng kita!
Manusia so berbondong-bodong kase tinggal pa dia kong datang pa kita.
Malaikat : Hoi, sadar jo! So lebe dari dua ribu taon, itu nama Yesus Kristus masih terus diagungkan, dimuliakan, deng disembah di muka bumi ini.
Deng, orang-orang yang mengimani tu nama itu terus berjuang mo kase kalah pa ngana.
Buktinya, napa skarang, ini orang-orang pe smangat skali mo ba ibadah menyambut kelahiran Yesus Kristus sang Juruslamat.
Iblis : Memang lala mulu ja bacirita deng ngana no.
( berjalan seperti akan keluar, namun kembali lagi)
Eh!!! Ngana masih inga tu kejadian sepuluh milenium yang lalu di taman Eden?
Malaikat : Kiapa?
Iblis : Masih inga pa Hawa?
Malaikat : Kiapa dia?
Iblis : Masih inga itu pohong?
Malaikat : Hmmmm...kong kiapa?
Iblis : Itu buah dang?
Malaikat : Io, kong?
Iblis : Itu ular dang?
(Di depan panggung iblis beraksi dengan gaya mempersembahkan suatu pertunjukan, sesudah itu keluar)
Malaikat : Hmmm...
(setelah sempat terpaku ke arah panggung malaikat keluar)

Babak I
Adegan I
Setting: Taman Eden

(Tirai panggung dibuka. Masuk Adam sambil mengurus tanaman-tanaman di taman itu. Kemudian tertidur. Ular mengamat-amati Adam dari belakang pohon pengetahuan. Hawa bangkit perlahan kemudian menghampiri Adam. Adam terbangun dan kaget. Setelah menyadari siapa Hawa sebenarnya Adam mulai bersuara.)

Adam : Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.

(Adam kemudian mengajak Hawa berjalan-jalan mengelilingi taman Eden. Keduanya kemudian sibuk merawat tanaman, hingga akhirnya terpisah. Ular datang menghampiri Hawa.)

Ular : Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?

Hawa : Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.

Ular : Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

(Ular kembali bersembunyi di balik pohon. Hawa yang termakan dengan rayuan Ular akhirnya memetik buah tersebut dan membawanya kepada Adam. Kemudian Hawa mengajak Adam untuk memakan buah itu. Adam menanyakan pada Hawa asal dari buah tersebut. Hawa mengajak Adam ke tempat dimana ia memetik buah itu. Setelah itu Adam menjadi panik. Hawa terus membujuk Adam kemudian ia memakan buah itu. Semula Adam menolaknya, namun kemudian ia pun memakan buah tersebut. Seketika setelah Adam memakan buah itu keduanya mendapati dirinya telanjang, kemudian mereka lari bersembunyi. Terdengar suara langkah kaki.)

Suara : Di manakah engkau?

Adam : Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.

Suara : Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?

Adam : Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.

Suara : Apakah yang telah kauperbuat ini?

Hawa : Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.

Suara : (kepada Hawa)
Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.
(kepada Adam)
Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.

(Mereka akhirnya di usir dari taman Eden. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyi lagu ”Indah Sebagai di Eden”)

(Masuk malaikat dan iblis)
Iblis : Hua ha ha hahahaha.....
Pangge-pangge ujang ini.
Bae leh itu lagu bukang for kita.
Kacau...total!
Hua ha ha hahahaha....
Malaikat : De pe inti kwa dari hati. Dorang so berusaha mo kase yang terbaik pa Yesus Kristus lewat pujian.
Yah, kalu ada fals-fals dikit, ato nda ta iko ketukan, ato ada yang manyanyi sambil menghayal, ato yah, memang suara blek kan patut di maklumi. Manusia jo no.
Lantaran kan nda samua ada bakat di manyanyi.
Iblis : Butul, memang so dari sononya rata-rata manusia pe bakat bukang di manyanyi mar di bidang kekacauan, kekerasan, kesombongan, kenyanda-sabaran, kemunafikan yang samua-samua itu maso pa kita pe bidang.
Hua ha ha hahahaha....
Naraka!!!
Malaikat : Iiiiih...tttakuuut...(mengolok iblis)
Iblis : Dunia skarang deng dunia dulu masih sama!!!
Samua lantaran kita! Kita!! Kita!!!
Dari Eden sampe skarang, manusia nyanda akan pernah lolos dari kita pe kuasa!
Hua ha ha hahahaha....
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan II
Setting: Padang

(Tirai panggung dibuka. Adam dan Hawa yang telah beranak-cucu berjalan perlahan memasuki panggung. Menggambarkan sebuah perjalanan kehidupan yang meletihkan dari suatu keluarga yang besar. Makin lama jumlah mereka semakin bertambah. Terjadi kekacauan, keributan, kegilaan, dan perkelahian di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Beberapa berusaha melerai juga menenangkan, namun kekacauan terus terjadi. Dalam perjalanan itu mereka menemukan sumber air. Mereka bersukaria. Perlahan air mulai naik, dan mereka terus bersuka-ria. Setelah beberapa saat air terus naik, mereka menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri. Air terus naik hingga akhirnya menenggelamkan mereka. Terlihat bahtera di atas permukaan air. Setelah air surut masuk beberapa orang yang terlihat kelaparan dan sakit-sakitan. Masuk seorang nabi berpakaian raja dan bawahan-bawahannya yang kemudian langsung merawat dan memberi makanan pada orang-orang itu. Mereka bersuka-ria. Setelah orang-orang itu bersuka-ria nabi itu keluar. Mereka terus berpesta pora. Masuk orang-orang yang mengusung patung lembu yang terbuat dari emas yang kemudian disembah oleh orang-orang tadi. Masuk seorang nabi dengan membawa dua loh batu, yang kemudian segera murka setelah melihat suasana itu. Setelah memecahkan dua loh batu yang bertuliskan ke-sepuluh perintah Tuhan, nabi itu keluar. Mereka lalu mamecah-mecahkan dan kemudian memakan patung lembu itu. Kemudian mereka berjalan keluar dan terlihat sangat menderita. Masuk dari kiri dan kanan panggung orang-orang yang siap berperang. Mereka membentuk barisan di pinggiran panggung kemudian saling meneriakan cacian. Masuk seorang nabi yang berusaha melerai perang itu, namun sia-sia. Kedua kubu akhirnya maju berperang. Sang nabi keluar. Panggung menjadi arena pembantaian. Akhirnya semua tewas terkapar. Masuk perempuan-perempuan yang meratapi sosok-sosok mayat itu. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 260 Ayat 1 dan 3 “Dalam Dunia Penuh Kerusuhan”)

(Masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : hua ha ha ha...
Sengsara!!!
Sampe skarang itu kata itu masih terus terngiang di talinga!
Malaikat : Kasih!
Itu kata itu ley masih terus terngiang di telinga.
Iblis : Io, mar manusia semakin terpuruk dalam kita pe belenggu. Sampe-sampe yang ngana lia cuma kemunafikan. Yang ngana kira nda ada di antara orang-orang ini, mar sebenarnya ada, kong banya le!!! Ada saat-saat dorang bakampanye tentang cinta, kasih, deng Tuhan, deng ada saat-saat dorang bakampanye tentang.....ngana so tau to itu. Karna apa?
Malaikat : Hoaaaayem (sambil mengolok)
Iblis : Karna, ngana pe bos nyanda pernah butul-butul kase ampun pa dorang, manusia.
Malaikat : Masih inga itu kejadian sesudah tu ngana pe cerita tadi?
Iblis : Hmm.. bagimana?
(keluar Malaikat dan Iblis)

Adegan III
Setting: Dunia masa Perjanjian Lama

(Tirai panggung di buka, perempuan-perempuan yang menagis tadi terlihat sedang memindahkan jasad-jasad korban peperangan ke luar panggung. Masuk nabi Yesaya dan langsung bergabung dengan perempuan-perempuan tadi untuk memindahkan jasad-jasad.)

Nabi Yesaya : (Sambil memindahkan jasad)
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.
Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.
Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

(Keluar nabi Yesaya)
(Masuk nabi Mikha langsung bergabung memindahkan jasad)

Nabi Mikha : (Sambil memindahkan jasad)
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.

(Keluar nabi Mikha)
(Masuk nabi Zakharia yang kemudian langsung memindahkan jasad)

Nabi Zakharia : Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

(Setelah semua jasad telah di pindahkan, nabi Zakharia berjalan keluar. Perempuan-perempuan itu segera merespon nubuatan yang baru saja mereka dengarkan dari ketiga nabi itu dengan tarian pengharapan. Masuk beberapa orang masuk bergabung dengan mereka sehingga jumlah orang yang menantikan kedatangan Mesias semakin bertambah. Masuk Iblis yang langsung menghasut satu-persatu dari mereka. Lama-kelamaan satu-persatu mulai memisahkan diri dan keluar. Hingga akhirnya tersisa dua orang. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 81 Ayat 1,2,5 “O Datanglah Imanuel”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Hua ha ha hahahaha...
Apa yang ngana mo banggakan dari tu cerita itu?!
Itu tiga pace itu?
Ha ha haha...
Malaikat : Nubuatan!!!
Iblis : Oh....(mengangguk)
Mar ngana so lia kita pe andil?!
Akhirnya kan nda ada orang yang percaya tu ramalan itu.
Kalu cuma sekedar tau, ada!
Mar kalu soal percaya, no wey!!!
Malaikat : Mo ada orang percaya ke’, mo nyanda ke’, kalu namanya kehendak Tuhan, pasti mo jadi. Buktinya ngana.
Iblis : Kiapa kita?
Malaikat : Dapa user dari surga no.
Iblis : Bukang dapa user, kita yang suka pigi dari situ.
Malaikat : Oh, bagitu eh...
Kalu soal andil, ngana pasti tau tu kejadian di satu rumah di kota Nazaret.
(keluar Iblis dan Malaikat)

Babak II
Adegan I
Setting: Sebuah rumah di kota Nazaret
(Tirai panggung dibuka. Yusuf dan Maria yang sedang dilanda asmara sudah berdiri di tengah panggung. Yusuf berpamitan pada Maria lalu kemudian keluar. Maria mengantarnya sampai di depan pintu. Maria sejenak melamun sambil tersenyum-senyum, kemudian dengan suka-cita mulai membersihkan ruangan dan perabotan, lalu tertidur. Masuk Malaikat Gabriel yang menari-nari mengelilingi ruangan, kemudian membangunkan Maria.)
Gabriel : Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.
Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Maria : Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?

Gabriel : Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Maria : Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

(Setelah itu Gabriel keluar sambil menari-nari dari ruangan itu. Tidak lama kemudian Maria ikut keluar.)

(Beberapa bulan kemudian)

(Masuk Marta dan Maria. Maria sedang mengandung)
Maria : Terlalu sulit!
Sulit untuk dilupakan...
Senyumannya...masih terus terlukis di pikiran.
Gaya bertuturnya...
Aku...mencintaimu...Maria...(menirukan suara Yusuf)
masih terus terngiang di telinga.
Bahasa tubuhnya...ahh
Aku tidak bisa begitu saja melupakan orang yang telah mencuri hatiku...
Mungkin Tuhan telah menghukumku dengan mengambil kewarasanku, Marta saudariku.

Marta : Itu adalah hal yang wajar, saudariku Maria yang sementara dipenuhi semerbak bunga kasmaran dari Eden.

Maria : Tapi...tapi...Marta saudariku yang keteduhan hatinya mengalahkan laut mati.
Ada sesuatu yang ku takutkan.

Marta : Serbuk pahit apa yang berhasil di masukan iblis kedalam kepala putri Sion yang termanis ini sehingga dia melupakan sang penuntunnya yang setia?

Maria : Dengarkan dulu Marta saudariku yang kesetiaanya melebihi pengawal di serambi raja Salomo.
Sang pencuri hati sungguhlah seorang yang gagah, dan pastilah semua yang ditatapnya bertekuk-lutut. Sedangkan aku...lihatlah aku sekarang. Sang pencuri pasti segera membuang barang curiannya ke tanah dan segera akan diinjak orang jika barang curiannya itu ternyata hanya seonggok tanah liat.

Marta : Oh, saudariku yang malang. Terkutuklah semua pahlawan di Sion yang gagah perkasa jika hati putri Sion ini harus terinjak oleh salah satu dari mereka.

Suara : Marta...Marta....

Marta : Maria saudariku, hati itu sedang di hinggapi kupu-kupu yang membawa serbuk cinta sejati. Janganlah pernah membiarkan kupu-kupu itu lari dari padamu. Karena seluruh Israel menantikan hari pembuahannya.

Suara : Marta...Marta....Marta....

Marta : Sebentar. (ke arah suara itu)
Tegarkanlah hatimu yang suci itu!

(Marta berlari keluar)

Maria diam termangu dan sesekali termenung. Masuk Marta.

Marta : Oh, saudariku Maria yang dipenuhi rahmat Tuhan, menangislah. Tapi bukan dengan tangisan kematian itu. (memeluk Maria)

Maria : Kesedihan berusaha untuk terus merasuki hati yang tinggal sepenggal ini.

(Masuk Yusuf)
Yusuf : Jika demikian jangan biarkan dia menggantikan penggalan hati yang hilang itu. Biarlah hati yang tinggal sepenggal ini juga yang menggantikannya.
(jeda)
Aku ingin mengambil sebagai istri seorang putri yang sebagian hatinya pernah aku curi.

(Masuk seorang imam yang datang bersama Yusuf untuk menikahkan Maria dan Yusuf, juga masuk beberapa orang yang menyaksikan pernikahan tersebut. Setelah upacara pernikahan itu usai masuklah seorang utusan kaisar Agustus untuk membacakan suatu pengumuman)

Utusan kaisar : Pengumuman, pengumuman!
Kepada seluruh penduduk di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi, agar supaya mendaftarkan diri di tiap-tiap daerah asalnya sendiri atau daerah asal suaminya.

(Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan lagu dari Kidung Jemaat No. 85 Ayat 1 dan 8 “Ku Songsong Bagaimana”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Boleh jadi Maria deng Yusuf so melakukan adegan itu... lebe dulu, kong so babuah, jadi dorang mo tutu itu aib dengan yah... cerita itu, supaya nyanda malo.
Malaikat : Jadi menurut ngana, itu kejadian itu nyanda butul dang....
Iblis : Bukang menurut kita. Itu pemikiran dari tu cewe sana.
Talalu leh kong kita nintau tu kejadian itu. Sampe deng itu dorang pe perjalanan ka Betlehem le kita tau.
Yang kita nintau, ngana pe maksud mo cerita tu kejadian yang nyanda penting itu.
Malaikat : Kita pe maksud deng tujuan kan ngana so tau.
Mo jaga pa manusia.
Iblis : Hua ha ha hahahaha.....
Ngana kira kita mo kalah?!
Sedangkan ngana pe bos okat pa ana’, kong ngana le.
Coba jo!!!
Hua ha ha hahahaha....
Malaikat : Simak jo ini cerita!
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan II
Setting: Jalanan kota Betlehem

(Tirai panggung dibuka. Masuk Maria dan Yusuf yang berjalan mencari tempat penginapan. Saat tiba di penginapan pertama mereka bertemu dengan pemiliknya yang adalah seorang pengusaha muda yang terlihat begitu sibuk melayani pelanggan-pelanggannya yang lain)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi kami untuk menginap?

Pengusaha : (memperhatikan Maria dan Yusuf dengan seksama)
Oh..ya..
Tunggu sebentar ya....(sibuk melayani pelanggannya yang lain)

Pengusaha : Sebaiknya tuan dan istrinya duduk dulu di situ.

(Yusuf dan Maria duduk di kursi. Saat pelanggan yang dilayani pengusaha tersebut tinggal sedikit, Yusuf menghampirinya)

Yusuf : Bagaimana, apakah masih ada tempat bagi saya dan istri saya?

Pengusaha : Aduh, maaf sekali tuan. Orang yang seharusnya sudah keluar hari ini malah masih menambah waktu sewanya, jadi sampai saat ini belum ada kamar yang kosong.

Yusuf : Ya, sudahlah kalau begitu.

(Maria dan Yusuf kembali berjalan untuk mencari penginapan. Di tengah perjalanan yang berangin itu, mereka berpapasan dengan tiga orang prajurit Romawi. Setelah melewati Maria dan Yusuf, salah seorang prajurit tadi berbalik dan menghampiri Maria dan Yusuf yang dikuti oleh kedua rekannya untuk memberikan kain jubahnya pada Yusuf agar dikenakan Maria. Setelah menerima kain tersebut Yusuf segera memakaikan kain tersebut pada Maria. Ketiga prajurit keluar. Maria dan Yusuf meneruskan perjalanannya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang pemiliknya adalah seorang wanita pesolek)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?

Wanita : Ada...ada.
Tapi kamar yang tersisa hanya tinggal satu, dan ukurannya pun kecil.
Harganya tiga dinar untuk sehari.

Yusuf : Uang kami tinggal sedikit.
Untuk membayar biaya kamar itu selama dua hari saja sudah tidak cukup.
Sekiranya ibu dapat menolong kami.
Istri saya akan segera malahirkan.

Wanita : Oh...begitu.
Hmmmm.....(perpikir sejenak)
Berapa jumlah uang kalian?

Yusuf : lima dinar.

Wanita : Hmmmm.....(berpikir)
Baiklah.
Mari ikut aku.

(ketiganya bergegas berjalan ke luar panggung, tapi langkah mereka segera terhenti setelah terdengar suara seseorang. Masuk seorang pria yang terlihat begitu tergesa-gesa)

Pria : Siapakah pemilik penginapan ini?

Wanita : Ya...saya sendiri.
Ada apa?

Pria : Oh, kebetulan sekali.
Saya sudah berkeliling di kota ini untuk mencari penginapan, tapi semua penginapan yang sudah saya datangi semuanya sudah penuh.
Mmmm...apakah di tempat ini masih ada kamar yang kosong?
Kalau ada, saya akan menginap selama seminggu.

Wanita : Oh....begitu....
Hmmmmm....(berpikir)
Sebenarnya penginapan ini juga sudah penuh, tapi ada sebuah kamar kecil yang bisa digunakan.
Harganya per hari empat dinar.
Bagaimana?

Pria : Hmmmmmm....(berpikir)
Baiklah, saya ingin melihat kamarnya.

Wanita : Oh ya...
Mari ikut saya.
(kepada Maria dan Yusuf) Maaf ya...

(Wanita dan Pria bergegas berjalan keluar)

Yusuf : Tapi bagaimana dengan kami?
Kumohon tolonglah kami...
Istri saya akan segera melahirkan.

Wanita : Sebaiknya kalian cari penginapan yang lain saja, yang cukup dengan uang kalian.

(Wanita dan Pria keluar)
(Yusuf dan Maria kembali berjalan mencari penginapan. Di tengah perjalan mereka berpapasan dengan beberapa orang anak kecil yang menari-nari di jalanan. Setelah berputar-putar mengitari Yusuf dan Maria, dua orang dari anak-anak itu memasangkan mahkota bunga kepada Yusuf dan Maria. Sesudah itu anak-anak keluar. Maria dan Yusuf terus berjalan untuk mencari penginapan, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan milik seorang lalaki tua yang bungkuk dan pincang. Setelah cukup lama Yusuf mengetuk pintu penginapan, baru pemiliknya keluar)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?

Lelaki Tua : (menghela nafas panjang)
Tempat ini sudah seperti kandang.
Bangunan ini sudah hampir roboh karena harus menahan kesesakan orang-orang yang ada di dalam.

Yusuf : Kiranya bapak sudi menolong kami.
Istri saya ini sudah mau melahirkan.

Lelaki Tua : (menarik nafas panjang)
Sebenarnya saya ingin sekali menolong kalian, tapi mau bagaimana lagi, selain pelanggan, saudara-saudara saya yang dari luar kota juga menginap di sini untuk mendaftarkan diri. Jadi saya sarankan sebaiknya kalian mencari tempat lain saja.
(Menengadah ke langit) Hari sudah mau hujan.
Jika ingin berteduh-berteduhlah di situ. (menunjuk arah kandang)

(Lelaki Tua keluar, Yusuf dan Maria berjalan ke arah kandang. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 94 Ayat 1 dan 4 “Hai Kota Mungil Betlehem”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Hoaaaayaaaam...(mengantuk)
Membosankan...
Riki pastiu kita da tunggu depe bagian akhir.
Malaikat : Cerita itu nda akan pernah mo klar. Sampe kapan pun.
Cerita itu mo ada trus, secara turun menurun.
Iblis : Kita leh ada cerita yang nyanda akan pernah mo klar.
Cerita perang......deng......keangkuhan!!!
(Keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan III
Setting: Balai Istana Herodes

(Tirai panggung dibuka, Herodes dan prajurit-prajurit Israel sudah berada di panggung. Herodes duduk di kursi Raja)

Semua : Demi kejayaan bangsa kita !
Untuk kejayaan tanah air!
Hidup raja agung terbesar kita!
Hidup Caesar yang sudah memberikan kepercayaannya pada raja kita Harodes!!!
(Masuk istri Herodes beserta pelayan-pelayan istana. Istri Herodes duduk di kursi Permaisuri)
Permaisuri : Cukup!
Roma dan Caesar tidak akan pernah seperti sekarang ini, kalau saja tidak ada suamiku Herodes!
Peperangan ini....
Kemenangan ini adalah milik Herodes Yang Agung!
Semua karena jasa-jasanya, sehingga Yang Mulia Herodes pantas di sebut Raja Agung Terbesar.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Daerah-daerah di pinggiran Palestina yang merupakan garis terdepan Romawi sudah ku taklukkan.
Sebentar lagi Arab yang berlimpah minyak akan segera menyusul.
Dan dunia ini sepenuhnya akan jadi milikku.
Ha ha ha hahahaha.....
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Kalian semua adalah pejuang-pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Berbahagialah ibu yang melahirkan kalian, karena sudah terbukti bahwa pasukan ini adalah pasukan yang tak terkalahkan.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
(Herodes tertawa, masuk seorang kurir)
Kurir : Yang mulia raja Herodes, di depan istana ada tiga orang yang mengaku raja dari timur yang datang untuk menemui raja terbesar di tanah Palestina.
Herodes : Hua ha ha ha hahahaaha....
Ternyata keagungan dan kemuliaan namaku sudah tersebar sampai ke kerajaan-kerajaan di timur.
Hua ha ha hahahahahaha....
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Suruh mereka masuk!
Kurir : Daulat tuanku! (keluar)
Perwira I : Mungkin, mereka mulai ketakutan, karena dipikirnya pasukan kita akan bergerak ke timur, ke wilayah mereka.
Semua : (tertawa)
Perwira II : Mungkin mereka kemari dengan membawa bendera putih.
Semua : (tertawa)
Perwira III : Atau, mereka ingin menjadikan kita sekutu. Dan memberikan upeti kepada raja teragung, termulia, dan terbesar.....Herodes.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
(Masuk kurir dan ketiga orang Majus)
Herodes : Ada perlu apa, sehingga datang dari jauh-jauh kemari?
Majus I : Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.
Herodes : Apa...? Baru dilahirkan? Lelucon apa ini?

(semua orang di istana Herodes menjadi terkejut dan tercengang-cengang. Terdengar suara kasak-kusuk)

Herodes : Cepat kumpulkan semua imam kepala dan ahli taurat.
(gelisah)

(masuk ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala)

Herodes : Siapa raja orang Yahudi yang kau maksudkan itu, sehingga alam pun turut menyembahnya?

(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa dari mereka membuka kitab)

Ahli Taurat : Dia adalah Mesias. Raja yang akan memimpin Israel.

Herodes : Ini pemberontakan! Di mana dia akan lahir?

(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa membuka kitab)

Imam Kepala : Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.

Herodes : Ini mustahil!!! (terbata-bata, gelisah, gugup, sempoyongan)
Tidak mungkin di tanah ini ada raja yang lebih besar dari aku!

(Para Ahli Taurat dan para Imam kepala terlihat sedang memperdebatkan sesuatu. Herodes mendekati orang-orang Majus dan kemudian berbisik)

Herodes : Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.

(Keluar orang-orang Majus. Herodes memanggil kurir dan mengisyaratkan agar mengikuti orang-orang majus itu. Keluar kurir. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat manyanyikan Kidung Jemaat No. 95 Ayat 1-3 “Gita Sorga Bergema”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Malaikat : Raja paling besar!
Bukang cuma di Israel, mar di dunia.
Yang Dia pe kerajaan nyanda akan pernah berakhir!
Bayangkan!!!
Iblis : Tunggu kita mo bayangkan (mengolok Malaikat)
Malaikat : Tuhan deng Manusia ada depe pendamai.
Yesus Kristus!
Yang Ilahi yang ada jadi manusia!
Iblis : Intsrupsi!!!
Di dunia ini dia pe kerajaan bukang satu-satunya yang paling pai deng abadi!
Ada dua kerajaan yang sama-sama pai.
Tau to sapa punya tu satu?!
Malaikat : Mar, de pe laste kan ngana pe kerajaan mo kalah!
Lantaran so ada tatulis.
Iblis : Kita nyanda akan pernah kalah!!!
Yang tatulis di situ salah!!!
Kita pe tujuan yang sebenarnya, mo buktikan kalu samua itu salah.
Samua yang tatulis di kitab-kitab itu salah!!!!
Malaikat : Ngana masih inga itu kejadian pa gembala-gembala di padang rumput?
Apa yang tatulis pasti mo jadi.
(keluar Malaikat dan Iblis)

Adegan IV
Setting: Padang Rumput

(Tirai panggung dibuka. Gembala-gembala sedang menjaga kawanan dombanya)
Gembala I : Apakah semuanya sudah bersiap-siap?
Gembala II : Kami semua sudah siap sejak dari rumah. Tapi saya pikir mereka tidak berani macam-macam, karena jumlah kita cukup banyak.
Gembala III : Ya, pencuri-pencuri itu sebenarnya adalah orang-orang pengecut. Mereka hanya berani merampas jika jumlah gembala penjaganya di bawah tiga orang.
Gembala I : Ia, tapi kan kita harus tetap berjaga-jaga.
Gembala IV : (dengan nada bercanda) Padahal dulu, walaupun tidak di jaga, domba-domba ini pasti tidak akan hilang.
Gembala V : Zaman ini sudah semakin sulit sejak kedatangan orang-orang Romawi itu.
Gembala VI : Benar sekali. Mereka memungut pajak yang terlampau tinggi, sehingga kita harus membanting tulang dua kali lipat.
Gembala VII : Ssssst, jangan keras-keras....
Gembala V : Kenapa harus takut.
Ini adalah tanah kita!
Ini adalah bangsa kita!
Gembala I : Simeon! Diamlah!
Gembala VIII : Apa yang dikatakannya itu benar. Kita benar-benar sudah dibodohi.
Pencuri-pencuri itu adalah dari bangsa kita juga. Mereka menjadi seperti itu karena biaya hidup yang semakin tinggi.
Gembala IX : Bodoh! Mereka tidak lebih dari orang-orang bodoh! Karena mencuri adalah suatu tindakan yang paling hina. Dan Tuhan mengutuk tindakan itu.
Gembala X : He he he...(sinis)
Bukankah Tuhan sudah mati?
Lihatlah! Kita akan tetap berada dalam kesengsaraan. Kita tidak benar-benar keluar dari lingkaran setan itu. Sejak pembuangan di Babel Tuhan sudah tidak ada lagi. Lihatlah kini yang di hadapan kita adalah orang-orang Romawi gila dan kawanan pencuri domba bodoh.
Hukuman itu tidak akan pernah berakhir!
Gembala I : Eliezer! Ada apa denganmu?! Setan apa yang sedang merasukimu?!
Gembala X : Setan-setan apa!
Jangankan setan, Tuhan pun sudah tidak ada artinya lagi sekarang. Yang tertinggal hanyalah cerita hasil rekaan kakek-kakek gila hormat yang bekerja di bait suci itu...
Gembala IX : Eliezer! Apa kau sudah gila?!
Sudah lupakah kau pada nubuatan para nabi tentang akan datangnya Mesias?
Gembala X : Ahhh...lagi-lagi soal mesias. Aku sudah bosan hidup dalam penantian yang tidak jelas. Aku tidak mengharapkannya lagi.
Aku tidak perduli lagi pada hal ke-tuhan-an.
Semua Gembala: Eliezer!!!

(masuk Malaikat. Saat melihat Malaikat para gembala sangat takut)

Malaikat : Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.

(masuk malaikat-malaikat yang lain yang berdiri di belakang malaikat pertama.)

SemuaMalaikat: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

(Malaikat-malaikat keluar. Gembala-gembala menjadi takjub)

Gembala I : Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.

(semua gembala setuju dan berjalan keluar, kecuali gembala X. Dia duduk termenung sendirian dan terlihat gelisah, namun akhirnya keluar mengikuti gembala yang lain. Tirai panggung ditutup)

(jemaat menyanyikan Nyanyian Kidung Baru No.62 Ayat 1-3 ”Gembala Yang Ada di Padang”)

(Masuk Iblis dan Malaikat)
Malaikat : Pantasan ngana so jaga tumbus di tampa-tampa ibadah.
Kiapa so mulai abis stok di neraka?
Iblis : Hua ha ha hahahaha...
Ngana tau kote.
Dorang samua pasti mo iko pa kita ka neraka!!!
Malaikat : Malawang mimpi ngana!
Iblis : Mimpi?!
Kebanyakan kita dapa pengikut dari tampa-tampa bagini.
Deng, so dorang-dorang itu yang jadi paling setia pa kita, kalu ngana mo tau!
Malaikat : Kalu di sini susah ngana mo dapa. Lantaran Yesus Kristus sayang skali pa dorang.
Iblis : Sama!!! Kita le sayang skali pa dorang!
So itu kita mo pangge pa dorang!
Hua ha ha ha hahahaha....
Malaikat : Ngana pe usaha nda akan berhasil!!!
Nanti ngana lia!
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan V
Setting: Kandang domba

(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Di tengah mereka ada palungan. Malaikat-malaikat memegang lilin sambil berdiri di samping kiri dan kanan kandang. Di depan Maria dan Yusuf ada empat malaikat yang sedang menari-nari.. Malaikat-malaikat yang ada di samping kandang berjalan ke arah jemaat dan membagikan api dari lilin yang dipegangnya masing-masing kepada jemaat. Sesudah itu kembali naik ke atas panggung)
(Masuk gembala-gembala yang berjalan kearah kandang. Mereka memperhatikan bayi Yesus dengan seksama)
(Masuk ketiga orang Majus yang dibuntuti oleh kurir Herodes. Berjalan kearah kandang dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Bersamaan dengan itu beberapa malaikat berjalan ke arah jemaat dan menjalankan pundi persembahan. Sesudah itu malaikat-malaikat kembali ke panggung. Keluar kurir Herodes. Tirai panggung ditutup)

(jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 123 Ayat 1-4 “S’lamat S’lamat Datang”)

(masuk Iblis—murung dan gelisah—dan Malaikat)
Malaikat : Kiapa? Rupa dapa lia suak-suak ini.
Iblis : Suak-suak di rumah saki!
Jangan dulu sanang, blum kalah ini.
Malaikat : Oh, mo tamba leh?
Iblis : Ha ha...(sinis)
Suka-cita yang nda akan bertahan lama!
Nda mungkin mo se kalah pa kita!
Malaikat : Dapa lia ngana yang so nda mo bertahan lama di sini.
Iblis : (semakin gelisah) Pasti ada celah!
Pasti ada! (berpikir keras)
Hmmmm....(tersenyum)
Logika...(berbisik)
Samua rekayasa!!!
Samua tai minya!!!
Samua yang tatulis di situ (menunjuk ke Alkitab) nda ada yang butul!!!
Hua ha ha hahaha....
Samua dusta!!!
Itu ada beking supaya...supaya....
Malaikat : Kalu itu Alkitab de pe isi dusta samua, berarti ngana le nda ada!
(Malaikat mengampiri Iblis, kemudian berusaha menyeretnya keluar dari ruangan)
Iblis : Tunggu! Tunggu!!!
Kita blum kalah!!!
Coba pikir!!!
(Malaikat terus menyeret Iblis keluar)
Planet-planet!!! Kiapa nyanda tatulis di Alkitab?!
Dinosaurus!!! Kiapa nda ada di Alkitab?!
Samua salah!!! Samua salah!!!
Manusia!!! Depe asal dari yaki!!!
Sebenarnya ngoni...ngoni yaki kong jadi!!!

(Malaikat menyeret Iblis sampai ke luar ruangan)

Adegan VI
Setting: Kandang domba

(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Para Malaikat, para gembala, dan orang-orang majus berbaur dalam tarian kesuka-citaan. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan lagu Hai Dunia Gembiralah)

(Doa Penutup)

Selesai