Senin, 19 November 2007

Puisi – puisi Andre GB: "(Pledoi) Main Kamft, So Butul Gagak-Gagak Itu..."

Sadiki sumbangan for kekayaan sastra Manado

(PLEDOI) MAIN KAMFT

pro : orang bukit hijau

Woi, torang sudara

Cuma bahoba

Lia ngoni da bae – bae ato nda

29 Okt 2007

SO BUTUL ITU

pro : orang bukit hijau

so butul itu

kalo tu gagak – gagak musti mati

kalo dorang cuma ba pancuri

samua padi yang ngoni tanam

so butul itu

kalo tu gagak – gagak musti mati

kalo dorang datang ba ambe

samua harta yang ngoni jaga

karna itu,

napa kita kiring pa ngana

piso ta bungkus sayap merpati

for pake tikang pa dorang sampe mati

karna di mana – mana

yang ba pancuri musti mati

29 Okt 2007

Selasa, 30 Oktober 2007

Cerpen Denni Pinontoan: "Oh Kasiang, Manado"

Kalau orang dari daerah pegunungan di Tanah Minahasa datang ke Manado yang mereka keluhkan antara lain soal suhunya yang panas. Dugaan aku, suhu yang panas itu antara lain karena kota Manado semakin padat penduduknya, sementara pohon-pohon besar telah sangat berkurang diganti dengan gedung-gedung megah milik para pembesar itu. Bukan cuma suhunya yang panas, tapi juga percaturan politik, social dan ekonomi di sana. Maklum, Kota Manado adalah kota plural, tinutuan, dengan berbagai dinamikanya. Bahkan hari-hari terakhir ini suhu semakin panas lagi ketika para PKL dikejar-kejar oleh Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Manado atas nama penertiban. Kata Pemerintah Kota, ini demi visi Kota Manado sebagai Kota Pariwisata 2010.

Tapi, banyak orang harus ke kota itu. Aku juga. Dari Kota Tomohon menuju Kota Manado kebanyakan orang akan menumpang bus antar kota. Aku hari itu menumpang salah satu bus yang melayani jalur Tomohon-Manado.

Waktu itu jam kira-kira menunjuk pukul 09.30 pagi. Pas memasuki Winangun di kompleks Citraland jalan macet. Antrian mobil sangat panjang. Diketahui kemudian kira-kira 500 meter dari bus yang aku tumpangi ada orang meninggal yang akan dimakamkan. Sudah pasti jalan harus jadi macet. Orang-orang di bus itu termasuk aku so jadi pastiu. Seorang pemuda yang duduk di dekat aku berbicara di selulernya dengan seseorang di seberang sana. “Udah, tunggu aja. Maaf jalan lagi mecet nih. Lu tunggu aja di situ, gue udah deket. Iyo, jang ba bamarah dang,” begitu kata si pemuda itu untuk – aku tak tahu – siapanya itu melalui seluler. Hei bae-bae balogat metro sbantar munta bete.

Hampir satu jam baru bus yang kami tumpangi itu tiba di terminal Karombasan. Memasuki terminal itu, hiruk pikuk manusia-manusia pejuang kehidupan tampak sekali. Hari belum terlalu siang jadi kita masih bisa melihat semangat mereka. Ketika turun dari bus, loper koran lokal meneriakan headline koran yang dia jual. “PKL Pasar 45 bentrok dengan Pol-PP, korban berjatuhan!” Teriak si loper koran. Aku tertarik membacanya.

Setelah membaca headline yang diteriakan si loper tadi, aku membaca halaman lain koran itu. Di sebuah halaman ada judul berita “Kawasan Boulevard Surga Belanja Indonesia Timur.” Berita itu isinya adalah soal Boulevard yang beberapa waktu lalu telah dicanangkan menjadi kawasan Boulevard on Business (B on B). Di berita itu dipromosikan bagaimana Boulevard yang kini berdiri megah banyak pusat perbelanjaan bisa menjadi tempat yang nyaman, karena katanya terlengkap bagi orang-orang yang suka berbelanja.

Setelah membaca dua berita itu dengan posisi berdiri di antara mobil-mobil angkutan umum berjubel aku langsung menuju ke jalan tempat lewat angkot-angkot. Sebuah angkot yang papan trayeknya bertuliskan “Wanea-Samrat” berhenti pas di depanku. Si sopir seolah-olah sudah tahu kalau aku memang menunggu angkot jurusan trayek itu. Aku yang memang bertujuan ke Pasar 45 langsung masuk dalam angkot itu. Si sopir tersenyum ramah.

Di dalam angkot itu telah ada beberapa penumpang yang tujuannya bermacam-macam. Tapi mereka semua sama dengan aku harus melewati jalan Samratulangi. Seorang perempuan berseragam PNS duduk di paling belakang. Di sampingnya ada seorang perempuan yang kemungkinan bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Boulevard. Itu kentara dari seragam yang ia kenakan. Duduk pas di samping sopir seorang laki-laki kira-kira berusia 50 tahun. Aku duduk di kursi ke dua di belakang si sopir.

Angkot yang aku tumpangi tidak melaju dengan cepat. Si sopir kadang-kadang mengerem mobilnya. Maklum ia harus mencari penumpang. Pas di depan Coco Supermarket lagi-lagi aku melihat antrian mobil. Si sopir yang mengemudikan angkot yang aku tumpangi untuk kesekian kalinya menginjak pedal rem. Aku lihat di dalam Coco Supermarket itu berjubel orang sedang berbelanja. Setelah lewat dari supermarket itu aku melihat seorang berkacamata hitam dengan tongkat di tangan digandeng seorang perempuan tua. Di tangan perempuan itu ada sebuah tas berwarna coklat.

Angkot yang aku tumpangi berjalan pelan seperti siput. Angkot dan mobil lainnya juga begitu. Sehingga baru beberapa menit kemudian angkot baru bisa melewati patung Dr. GSSJ Sam Ratulangie. Patung Sam Ratu Langie tampak memegang sebuah buku. Benda itu yang diandaikan sebagai buku berjudul “Indonesia In den Pacific: Kernpoblemen Van den Aziatischen Pacific”. Sebuah maha karya Sam Ratu Langie yang terbit di Batavia tahun 1937. Angkot-angkot dari Terminal Karombasan yang akan akan melewati jalan Samratulangi untuk menuju Pasar 45, Pall 2, Teling, 17 Agustus dan lain-lainnya harus sedikit memutar mengelilingi patung itu. Patung itu, tampak menatap warga yang melewatinya. Tatapan mata si patung Sam Ratulangi seolah-olah mengisyaratkan sesuatu. Aku berandai-andai, kira-kira yang ingin disampaikan oleh patung Sam Ratulangi adalah, ”Hati-hati kalau datang ke Kota Manado. Kota Manado sekarang telah begitu kompleks dengan persoalan.”

Angkot yang aku tumpangi meski pelan tapi tetap berjalan. Sepanjang jalan Samratulangi aku melihat berbagai macam manusia dengan aktivitasnya. Di depan gedung gereja GMIM “Paulus” Titiwungen aku melihat lagi-lagi seseorang yang berkacamata hitam di gandeng oleh seseorang. Masih serupa dengan yang aku lihat sebelumnya. Anak sekolah memang belum tampak.

Setelah itu beberapa menit kemudian angkot yang aku tumpangi melewati Toko Buku Gramedia. Dari dalam angkot aku melihat banyak orang di dalamnya. Kebanyakan yang aku lihat adalah mereka-mereka yang berkacamata tebal. “Pasti mereka-mereka ini hobinya membaca,” pikirku.

Lewat sedikit Matahari lama yang depan Korem itu, tiba-tiba kami yang ada di dalam angkot itu dikejutkan dengan suara yang datangnya dari sebuah mobil pick up (aku tak tahu apa mereknya) berwarna putih. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh si perempuan itu melalui alat pengeras isinya menghimbau warga Kota Manado atau yang sedang berada di kota itu untuk tidak membuamg sampah sembarangan. Katanya, kalau ada yang kedapatan membuang sampah sembarangan akan diancam dengan hukum penjara dan denda. Karena, soal cara membuang sampah di Kota Manado menurut si perempuan itu telah diatur dalam Perda Sampah.

Mendengar himbauan itu, perempuan berseragam PNS yang duduk di paling belakang langsung memberikan komentarnya. “Uh, sgala jo. Cuma lei mo buang sampah sampe musti mo ator-ator deng perda. Di Indonesia, skarang ini, samua so mo ator deng perda ini deng itu, undang-undang ini deng itu. Sampe lei cara ba pake so mo ator lei deng undang-undang. Mar, de pe aneh tu korupsi deng pembunuhan nda mo abis-abis,” kata si perempuan itu.

Dari nada bicaranya aku menangkap sebuah kekesalan.

Aku tidak bicara, tapi memberi respon dengan melihat kepadanya sambil mengangguk-angguk. Aku memang setuju. “Butul ngana tanta,” gumanku dalam hati. Ternyata masih ada orang yang kritis seperti itu. Benar, negara dan daerah ini semua akan diatur dengan macam-macam aturan atau perda. Jangan-jangan ini konsekuensi dari semakin bertambahnya beban daerah yang antara lain karena otonomi setengah hati dari pemerintah pusat. Aku ingat pendapat seseorang dalam sebuah dialog public di Radio Suara Minahasa 93.3 FM di Tomohon, yang mengatakan bahwa perda sama dengan retribusi dan retribusi sama dengan penghisapan.

Lia jo kwa, orang mo buang sampah di mana, nda ada tampa sampah, “ kata perempuan itu lagi sambil menunjuk ke luar.

Jari telunjuknya mengarah di trotoar depan pertokoan itu. Aku ikut melihat apa yang dia maksud. Tapi perhatianku setelah itu terarah pada seorang pengemis yang sedang meminta-minta di trotoar itu.

Nda usah kwa mo ator dengan s’gala undang-undang. Torang kwa mangarti itu. Yang pemerentah mo beking tare s’krang bagiman tu rakyat bole mo mancari bagus. Bagimana mo iko tu pemerentah pe mau kalu mo bajual jo so dusu-dusu sama deng binatang. Lia jot tu PKL di ampa lima,” perempuan itu berkata dengan serius sekali.

Tapi si perempuan berseragam PNS tak lama kemudian berkata, “muka jo sopir!” Tepat di depan Multi Mart, ia harus turun dari angkot. Ketika itu pandanganku beralih ke sebelah kanan. Aku melihat bekas gedung Minahasa Raad mulai tak tampak lagi keasliannya. Padahal gedung itu adalah saksi sejarah tentang asas-asas demokrasi yang sudah lama berkembang di Tanah Minahasa.

Angkot bergerak lagi. Di depan Gedung Joang aku turun. Penumpang yang lain juga begitu. Aku berjalan sampai di perempatan. Di sana aku melihat gedung gereja GMIM “Sentrum” Manado. Sebuah gereja tua di tengah hiruk pikuknya Kota Manado. Di sampingnya ada tugu peringatan pemboman perang dunia ke-II.

Aku memang bermaksud ke Pasar 45. Tapi karena angkot telah dilarang oleh Pemerintah Kota masuk sampai ke kawasan itu, maka aku lebih baik memilih untuk menyusuri jalan di sebelahnya.

Panasnya suhu Kota Manado siang itu minta ampun. Wajahku semakin memerah (dasar orang gunung). Aku sampai juga di kawasan Pasar 45 itu. Di sana suasananya beda jauh dari yang aku tahu beberapa waktu sebelumnya. Semenjak ada kebijakan penertiban PKL di kawasan itu, hari itu adalah hari pertama aku ke lokasi yang beberapa waktu terakhir ini ramai diberitakan. Suasana memang jadi lain. Ada sesuatu yang hilang dari Pasar 45 yang aku tahu, juga barangkali kebanyakan orang gunung tahu. Jauh sebelum ada pencanangan B on B, orang-orang dari kampung (jangan samakan ini dengan kampungan, neh) telah sangat familiar dengan Pasar 45. Juga meski telah ada pusat perbelanjaan di kawasan Boulevard, semasa pemerintahan Walikota Wempie Frederik, orang-orang masih banyak yang berbelanja di Pasar 45 itu. Orang-orang di kampung-kampung kalau ingin cuci mata atau berbelanja dulunya tidak ke Mall-Mall tapi ke Pasar 45 itu. Tapi sekarang semua itu tinggal kenangan. Tidak ada lagi tempat plesir dan berbelanja macam-macam barang kalau musim panen cengkih tiba.

Pasca penertiban PKL di Kota Manado yang kemudian membuat Pasar 45 menjadi sunyi dengan terpaksa orang-orang yang kantongnya pas-pasan sedikit bingung akan berbelanja di mana kalau hari raya tiba. Memang kawasan B on B telah hadir. Tapi ada yang mengeluh, kalau berbelanja di sana uang lima ratus ribu rupiah hanya untuk beberapa macam barang belanjaan.

Di sebuah sudut di Pasar 45 itu aku melihat banyak – yang barangkali mantan PKL – berkerumun. Aku tak terlalu simak apa yang sedang mereka percakapkan. Yang tampak jelas cuma keseriusan mereka. Itu tampak dari bahasa tubuh mereka. Tak lama aku memperhatikan itu. Selanjutnya perjalananku dilajutkan.

Menyusuri emperen-emperan toko. Di dekatnya ada Jalan Roda (Jarod). Siang itu aku melihat spanduk berwarna kuning dipajang pas di jalan masuk ke lokasi itu. Pesan spanduk itu lengkapnya aku sudah lupa, tapi isinya semacam memberi ucapan selamat menjalankan ibadah puasa bagi kaum muslim. Ada juga satu kalimat yang menyatakan dukungan terhadap program pemerintah kota. Yang aku dengar dari teman-teman bahwa Jarod itu, setiap harinya banyak aktivis dan pemikir yang berkumpul dan mendiskusikan banyak hal. Termasuk juga barangkali soal penertiban PKL itu.

Aku terus menyusuri emperen-emperan toko mengarah ke Plaza. Tapi dari jalan-jalanku di samping TKB sampai mendekat Plaza aku tidak lagi melihat lemari-lemari berisi emas. Kecuali memang toko-toko emas. Yang aku maksudkan para pembeli dan penjual emas yang biasa menyapa orang lewat: “Jual mas om, tanta, cowok?” Benda mirip atau memang lemari itu memang sudah tidak ada, tapi sapaan-sapaan itu masih banyak terdengar. Bahkan di sebuah sudut toko aku melihat dua orang perempuan yang menggegam tas berukuran sedang berkacap-cakap. Ketika aku melewati mereka salah satu di antaranya menyapaku, “Jual mas, cowok?” Aku hanya tersenyum.

Aku akhirnya sampai di tujuan. Di sebuah gedung dengan sebuah kepentingan. Setelah bercakap-cakap dengan seorang perempuan muda yang bekerja di gedung itu aku harus duduk antri menunggu nama dipanggil. Antriannya panjang. Memang di gedung itu banyak orang yang berkepentigan.

Sambil duduk di menunggu nama dipanggil, aku kembali merenungi perjalanan tadi. “Oh Kasiang, Kota Manado,” gumamku.

Minggu, 28 Oktober 2007

Cerpen Karya Greenhill G. Weol: "Sebuah Surat Dari Sebuah Kamar Kayu Tertanggal 29 November 2006"

For Honey,

Kita skarang ada di sini, pa torang dua pe kamar, kamar kos harga dua ratus ribu yang torang dua ada tinggal sama-sama so mo amper lima bulan. Kamar sederhana ruma papang, punung lobang, kurang ja tempel deng kartas. Kamar yang panas kalo siang, mar dingin kalo malam. Kamar yang banya bifi kalo sala lapas sisa makanan. Kamar yang hon mara-mara kalo kita biking talimburan dengan komputer mar sebenarnya kita jo le tu mo manimpang. Kamar tampa kita batunggu hon pulang dari kerja kong mulai putar mp3 kong dengar hon bacirita samua cirita dari tampa karja sampe hon lala kong tabobo... bobo sama-sama. Samua sama-sama... Hon, kamar ini kita anggap sorga, karna sama-sama deng hon.

Mar, skarang kita so sandiri di kamar ini. Tadi malam hon so angka hon pe barang-barang, baju-baju, piring, glas, kipas angin, samua-samua. Hon so pinda. Hon bilang, hon pinda karena mo kase lupa tu samua-samua yang perna torang dua rasa sama-sama di kamar ini. Hon bilang torang dua pe cerita so klar. So nimbole kase trus, karna memang nimbole. Hon pe mama nda kase torang dua mo jadi karna torang dua beda greja. Hon kata Cuma beking-beking malo keluarga kalo mo trus deng kita. Percuma kata mama so kase skola tinggi-tinggi sampe jadi sarjana mar cuma mo ba iko pa kita. Hon so pili dengar pa mama. Hon bilang, masa mo buang orangtua Cuma gara-gara paitua? Hon nyanda sala. Torang dua so lama baku sayang, so baku mangarti, so baku skola. Kita nyanda mara. Kita mangarti pa hon. Kita sayang pa hon. Kita rasa le Tuhan nda perna mara orang baku sayang.

Hon skarang so dapa paitua baru yang sama deng hon. Minggu lalu hon so bawa kase tunjung pa hon pe keluarga. Hon bilang skarang mama so sanang, karna skarang hon so ada paitua yang bole mo maso greja sama-sama. Kita nda binci hon pe keluarga. Dorang slalu bae-bae pa kita. Amper ampat taun kita pigi-pigi pa hon pe kampung, amper samua hon pe sodara so kanal pa kita. Kita so anggap dorang kita pe sudara. Dorang samua bae-bae pa kita. Kitale sebenarnya suka mo jadi orang pa hon pe kampung. Skarang, so ada orang laeng yang hon ja bawa ka sana. Kita minta maaf kalo perna so ta lapas kata ancam pa dia. Dia nyanda sala, semua orang berhak mencintai dan dicintai. Kita cemburu, dia datang-datang langsung ambe hon dari pa kita. Kita susa skali, karna hon dapa lia so kase lupa pa kita. Kita hon so beking stau, so rupa nyanda perna kanal, so orang laeng. Itu yang ja beking saki skali kita pe hati.

Skarang, so dekat dari hon pe tampa karja hon tinggal. Disana ruma beton, pake tehel, kong kamar mandi di dalam. Kamar bagus, harga limaratus ribu lebe. Hon bilang so beli karpet baru, kong nanti paitua mo bawa televisi deng pleysteisyen. Hon skarang tinggal deng dia, dari hon pe kata-kata kita simpulkan bagitu. Hon skarang so ja tidor deng dia. So bagitu no, mo bilang apa. Hon so pili jalan itu, jadi kita so nda ada hak mo ator-ator hon pe kehidupan, bagitu hon bilang. Hon lagi bilang nda usah lagi ganggu-ganggu pa hon. Hon bilang kita Cuma ancam-ancam tiap kali kita ba telpon pa hon. Hon bilang suda jo mo bilang-bilang tentang kita pe orang tua karena so bukang hon pe urusan. Io hon, kita mangarti. Kita minta maaf kalo so banya ba ganggu. Kita so sala. Kita Cuma lagi nintau mo beking apa. So bodok. Orang yang paling kita sayang tiba-tiba so pigi kase tinggal pa kita.

Sebenarnya kita nimbole mo bilang ini pa hon. hon mo bilang lombo. Hon mo bilang cengeng. Hon mo bilang kita kase-kase tunjung kelemahan, kase-kase tunjung aer mata, supaya hon kasiang. Cari-cari perhatian. Hon bilang kalo bagini hon malah lebe binci. Hon bilang kalo so berakhir ya sudah no! Skali lagi sori hon. Kita lagi panik, bingo-bingo yaki. Kita nda ada orang laeng yang dekat deng kita selain hon. Nda ada orang laeng yang perna lia kita pe aer mata selain hon. Nda ada orang laeng yang kenal pa kita luar dalam selain hon. Hon, kita ilang pegangan. So nintau mo kamana, so nintau mo bagimana. Samua kita rasa so nyanda berguna. Hon, kita nda pernah rasa saki hati sampe bagini. Hon, kita nda pernah sayang orang laeng sama dengan kita sayang pa hon. Kita kehilangan skali komang. Kita so nda mampu. Kadang kita ja pikir kyapa hon tega biking bagini pa kita. Sori hon, kita Cuma mo jujur, kita nda sekuat yang hon kira. Kita pe kuat ada pa hon... mar skarang hon so pigi.

Kita tau hon le saki hati. Kita tau hon le nimau samua ini mo jadi. Kita tau samua ini jadi bukang karna hon so nda sayang pa kita. Kita tau ini samua usahanya hon untuk sebuah masa depan yang baru, yang mungkin lebih cerah. Io hon, kita tau kita nda bisa menjanjikan apa-apa. So lama torang dua sama-sama nda ada kejelasan mo kamana, Cuma bagini-bagini jo. Kita le nda punya apa-apa. Hon bilang masa kata mo bagi-bagini trus tanpa kepastian? Kita bukan nda mo berusaha. Cuma hon kan tau, ada yang nimbole kita langgar. Setelah skarang so karja hon pe pikiran so lebe tabuka. So banya tamang-tamang karja ja bilang-bilang akang. Hon so se lupa dulu perna baku bilang mo baku sayang selamanya. Mar itu dulu. Waktu hon masi mahasiswa. Kita nda berhak mara. Sapa le yang mo hidop Cuma mo makang cinta! Io to? Skarang hon so ada masa depan deng dia. Hon bilang taun depan so mo kaweng. Kita nda mara. Kita Cuma kecewa, kyapa Cuma hon tu beruba, kong pe cepat skali le, kita nyanda.

Slalu kita berusaha kase yang terbaik pa hon. Samua-samua yang kita bole beking, kita pasti beking. Samua-samua yang kita bole kase, kita pasti kase. Kita tau, samua itu nyanda banya, nyanda berlebihan. Mar, kita so kase samua yang kita bisa. Samua-samua. Kita le sebenarnya ada mimpi for torang dua. Mimpi yang skarang mungkin tinggal mo jadi mimpi selama-lamanya. Kita nda mimpi besar-besar, nda muluk-muluk. Mungkin hon Cuma mo tatawa akang. Kita Cuma mimpi mo hidop sama-sama deng hon, kase lupa tu samua perbedaan, sanang sama-sama, susa sama-sama, kong hidop sampe tua, baku sayang sampe tua. Deng terakhir, kalo Tuhan ijinkan, kita nanti mo brenti banafas sementara hon ja plo. Mudah-mudahan le bole mo sama-sama bakudapa di sorga, kong hidop di sama selama-lamanya. Kalo itu jadi, so kita tu orang yang paling sanang di dunia ini!

Hon, skarang kita so bukang hon pe sapa-sapa lagi. Kita so bukang hon pe paitua. Hon slalu ulang-ulang kalo torang dua so nyanda ada apa-apa. So nyanda ada hak. Hon so ada paitua baru. Skarang kita Cuma seorang yang kecewa, sendiri, susa, deng somo gila. Kita tau kita so nda lagi ada harga. Kita le tau mungkin so nyanda guna mo bilang ini samua. Hon kurang mo tatawa akang sto. Kage hon kurang mo luda akang le. Mar kita musti bilang, akan selalu bilang, dan akan terus bilang kalo kita sayang skali pa hon. Biar hon so deng sapa-sapa, hon tetap satu-satunya orang yang kita sayang. Kita rasa hon sebenarnya mangarti apa kita pe perasaan, hon mangarti apa yang kita da tulis-tulis ini. Sebenarnya kita suka mo bacirita lewat kita pe bibir sandiri, Cuma tiap kali torang dua tabakudapa kita Cuma mo ta kaluar aermata. Banafas le mar susa.

Hon, skali lagi kita mo bilang, kita masi tunggu pa hon di sini, di torang dua pe kamar ini. Sama deng kita ja ba tunggu kalo hon kaluar malam pulang subuh. Sama deng kita ja batunggu pa hon pulang kerja. Kita nda mo brenti batunggu sampe kapan pun.

Kita masi batunggu hon. Pulang jo.