Sebuah Usaha Memaknai Natal Yesus Kristus dalam Konteks Minahasa Kontemporer
Oleh Denni Pinontoan
Selasa (9/12) malam lalu, di Watu Pinabetengan sekelompok anak muda Minahasa merayakan Natal Yesus Kristus dengan cara mereka sendiri. Tidak ada lagu Natal. Tidak tampak hiasan yang khas perayaan Natal, semisal pohon Natal, lampu kelap-kelip, dan tidak ada lilin-lilin yang diatur berbentuk salib untuk secara bergantin dinyalakan oleh orang-orang berkelas. Dan juga tidak ada khotbah dan doa yang dogmatis dari seorang pendeta atau evangelis. Khotbah diganti dengan diskusi intelektual, pujian-pujian diganti dengan pembacaan puisi secara bergantian, terang lilin diganti dengan nyala lampu petromaks.
Di bagian depan bangunan yang menutup Watu Pinabetengan yang monumental itu, sekelompok anak muda Minahasa ini duduk melingkar. Ada yang bersila sambil menyandarkan badan di dinding beton bangunan itu, dan yang lainnya bersila di atas lantai yang terbuat dari semen. Malam itu memang tidak tampak ada sekelompok orang yang sedang merayakan Natal Yesus Kristus, sebagaimana lazimnya umat Kristen merayakan Pohon Terang. Tapi bagaimanapun, bagi mereka itu adalah perayaan Natal. Tapi, apapun bentuknya acara malam itu, yang jelas, bagi mereka inilah cara praktis tapi bermakna dalam usaha memaknai Natal Yesus Kristus dalam konteks Minahasa.
Sekelompok anak muda Minahasa ini terdiri dari berbagai elemen, antaranya dari Komunitas Pinabetengan Muda (anggotanya kebanyakan dari pemuda Desa Pinabetengan), Mawale Movement dan perwakilan Teater Unggu UNIMA. Mereka memang berada dalam komunitasnya masing-masing, tapi semua berada dalam spirit yang sama, yaitu sedang dalam usaha melakukan pergerakkan Keminahasaan.
Tema perayaan Natal Yesus Kristus oleh anak muda Minahasa di malam itu adalah: ”Mesiah Lahir di Pinabetengan”. Sebuah tema yang provokatif tapi sebenarnya relevan dan penuh makna dalam usaha memaknai Injil Yesus Kritus dalam konteks penggerakan Minahasa. Barangkali bagi banyak orang ini kontroversi, sebab sejak sekolah Minggu umat Kristen telah diajarkan bahwa Yesus lahir di Betlehem bukan di tempat lain, apalagi di Pinabetengan. Tapi tema ini sebenarnya sedang usaha memaknai makna dalam dalam kekinian dan kedisinian Minahasa.
Watu Pinabetengan sengaja dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ritual intelektual itu mengingat dalam pemaknaan sekarang bagi Tou Minahasa Watu ini memiliki nilai historis dan kultural yang tidak bisa dilepaskan dalam merefleksikan keminahasaan. Menurut Freddy Wowor dan Greenhill Weol (penggiat Mawale Movement) dan Fryski Tandaju (dari Pinabetengan Muda), ini adalah cara yang tepat dalam memaknai nilai Watu itu. Sebab menurut mereka, Watu Pinabetengan sejatinya adalah tempat berdiskusi dan bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh para dotu Minahasa tempo dulu.
Diskusi malam itu berlangsung alot dan penuh makna dalam usaha memikirkan keminahasaan kontemporer. Pembicaraan yang serius mengarah ke dua pertanyaan, yaitu, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” dan ”Siapa Tou Minahasa itu?” Dua pertanyaan ini akhirnya menjadi pemicu dalam usaha menginterpretasi ulang makna kelahiran Yesus, dan usaha menjawab tentang jati diri Tou Minahasa yang terus berdialektika dalam sejarah.
Ketika mendiskusikan pertanyaan, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” saya kemudian teringat pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ditulis oleh para penulis Injil. Lukas 9:20-21 (dapat juga dibaca dalam Mat. 16:15-6 dan Mrk. 8:29) menulis: ”Yesus bertanya kepada mereka: ’Menurut kamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Petrus: ’Mesias dari Allah.’” Matius menulis jawaban Petrus itu dengan: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Sementara Markus menulis: ”Engkau adalah Mesias!”
Inilah pertanyaan yang mestinya dijawab oleh gereja (sebagai sistem nilai maupun sebagai lembaga) sepanjang abad. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin menegaskan pengakuan iman dan kepercayaan atas kemesiasan Yesus, Raja yang diurapi, pembebas dari segala bentuk kuasa yang mencengkeram dan menindas. Injil Yesus Kristus mestinya berkisar pada spirit atau semangat pembebasan, pemerdekaan, keadilan dan damai sejahtera bagi yang tertindas, kaum yang lemah karena diskriminasi dan marginalisasi oleh kuasa apapun termasuk kekuasaan negara yang represif.
Pertanyaan siapakah Yesus menurut kita, sekarang ini menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi-diskusi gereja-gereja Asia. Dalam usaha menemukan siapa Yesus dalam konteks Asia itu akhirnya mengarahkan kita pada apa makna Injil Yesus dalam konteks yang plural (SARA), totaliterianisme kekuasaan negara, kemiskinan, kuasa neoliberalisme dan berbagai persoalan lainnya. Ini sebenarnya sama juga dengan bertanya: ”Siapa Yesus dalam konteks kebudayaan kita?” Akhirnya, mau tidak mau, jawaban atas pertanyaan ini akan menyentuh persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya kita. Dengan demikian, Injil Yesus Kristus dan makna pengosongan diri Allah melalui kelahiran Yesus tidak hanya akan menjadi kata-kata indah untuk disyairkan yang hanya membuat umat atau rakyat tertidur secara terpaksa dalam keadaan lapar akibat pemiskinan oleh kuasa neoliberalisme, menderita karena konflik/peperangan, dan tertindas di tanah sendiri akibat kamuflase politik negara.
Natal dan Injil Yesus Kristus akhirnya harus bermakna pembebasan, pemerdekaan, penerimaan, keadilan dan damai sejahtera. Dalam konteks kebudayaan kita Minahasa, Natal dan Injil Yesus tentu bukan lagi bermakna mendikte dan menvonis salah nilai dan bentuk budaya yang dipahami dan dipraktekkan Tou Minahasa, melainkan lebih sebagai spirit dan semangat dalam usaha penggerakkan keminahasaan yang berhadapan dengan ancaman neoliberalisme, kekuasaan negara yang mutlak, dan perilaku pragmatis dalam Pilkada, Pilcaleg, serta kerja politik elit kita di lembaga eksekutif dan legislatif. Dengan penuh keyakinan kita mestinya merumuskan pengakuan iman kita orang Minahasa dengan memaknai Natal dan Injil Yesus sebagai spirit perlawanan terhadap segala kuasa yang menyesatkan itu. Itulah jawaban kita Tou Minahasa atas pertanyaan Yesus: ”Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?” Dengan demikian, sebuah pengakuan iman khas kebudayaan Minahasa telah kita rumuskan.
Terkait dengan itu, kita juga harus menjawab pertanyaan: ”Sei sia se tou Minahasa?”, ”Siapa Orang Minahasa?” Dalam diskusi di Watu Pinabetengan itu berhasil disimpulkan bahwa orang Minahasa bisa berdasarkan geneologis, berdarah Minahasa dan juga bisa siapapun dia, dari manapun asalnya, tapi tinggal di Tanah Minahasa dan mampu membuktikkan komitmennya atas perjuangan Minahasa untuk mencapai cita-citanya. Minahasa memang bermakna pluralisme. Minahasa berarti bersatu dalam perbedaan, atau keberagaman yang berkomitmen berjuang bersama-sama untuk mencapai cita-cita yang sama. Itulah bangsa Minahasa secara kultural. Sehingga Minahasa tidaklah harus diidentikkan dengan agama Kristen. Bahwa nilai kekristenan telah mempengaruhi atau memberi isi bagi kebudayaan Minahasa sampai hari ini, ya, tapi agama Kristen identik dengan Minahasa secara teritorial dan politik barangkali tidak, dan keliru kalau kita menyamakannya.
Pertanyaan Yesus, ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, memberi ruang bagi manusia dalam ruang dan waktunya untuk mengekspresikan imannya kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah, yang membawa kabar damai sejahtera, kebebasan dan keadilan. Jawaban yang diberikan tentu akan bermacam-macam. Tapi bentuk jawaban itu akan selalu berdasar pada dua hal, yaitu siapa yang memberi jawab dan dalam kebudayaan (ruang dan waktu) apa si pemberi jawab itu hidup. Injil Yesus Kristus sebagai spirit melampaui ruang dan waktu manusia, tapi cara mengekspresikannya mestinya berbentuk hasil dialog antara makna Injil yang tetap itu dengan ruang dan waktu manusia yang selalu berubah.
Makna Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bukan hanya soal ”surga” yang akan datang dan konon itu, tapi terutama adalah soal sekarang, hari ini. Minahasa hari ini, adalah Minahasa yang sedang bergolak hebat dengan persoalan sentralisme kekuasaan negara, serbuan kuasa kapitalisme dan neoliberalisme yang memakai perangkat globalisasi, serta pragmatisme elitnya – yang kebanyakan adalah Tou Minahasa – dalam jabatan-jabatan politik serta ekonomi yang dengannya terbentuk kelas-kelas sosial yang saling menindas. Spirit Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bermakna perlawanan terhadap segala kuasa yang sesat itu. Sebab keselamatan mestinya juga bermakna hari ini, yaitu keselamatan atau pembebasan atas segala kuasa dunia yang menindas dan memiskinkan (Luk. 4:18-19).
Selasa, 23 Desember 2008
Senin, 15 Desember 2008
Cerpen Denni Pinontoan: "Pohon Besar Itu".
Perkenalkan, aku Pinkan. Aku anak perempuan berusia 11 tahun. Aku tinggal di sebuah rumah kayu di sebuah wanua1 di bagian Selatan Minahasa. Tahun ini aku akan tamat sekolah dasar. Doakan, ya agar aku bisa lulus dalam ujian akhir yang dua bulan lagi itu. Aku memang butuh doa. Karena kata guruku, ujian kali ini sangat ketat. Soal-soalnya dikirim dari pusat dan nanti dibuka amplopnya ketika ujian akan dimulai. Aku harus memang butuh dukungan doa, agar aku dijauhkan dari cobaan untuk menyontek atau menerima bantuan dari guru. Sebab, guru juga kadang suka membocorkan soal-soal ujian. Sebenarnya bukan untuk pertama-tama melakukan perbuatan yang melanggar aturan, melainkan untuk membantu kami murid mereka yang tersayang.
Tapi, lupakan dulu ya, soal ujian itu. Toh, aku sudah belajar keras dan juga sudah meminta doa dari mama, papa, kakak dan kalian semua. Tuhan mana yang mau membiarkan anak-anak-Nya jatuh dalam ketidalulusan?
Ada persoalan penting yang ingin aku ceritakan pada kalian. Minggu lalu wanua kami heboh dengan kejadian tanah longsor di ujung wanua kami. Untung kejadian itu tidak sampai memakan korban jiwa manusia, kecuali beberapa pohon cengkih sansibar milik om Alo. Tapi ada juga yang perlu disayangkan. Sapi milik Om Yantje yang bernama Bongko itu, tewas tertimbun tanah. Sampai sekarang cuma ekornya yang tampak keluar dari timbunan tanah bercampur batu. Tubuh si Bongko yang malang perlahan tapi pasti sementara membusuk dalam tanah. Kasihan memang. Padahal, menurut cerita Om Yantje, si Bongko sedang mengandung anaknya. Om Yante dan istrinya, tante Neli aku lihat sangat sedih. Aku apa lagi, si anak perempuan kecil ini.
Warga di wanua kami memang belum melakukan apa-apa membereskan longsoran tanah itu. Sebab hujan baru berhenti kemarin. Hukum Tua2 bilang sudah menelepon ke pemerintah kabupaten untuk mendatangkan alat berat mengangkat timbunan tanah itu. Tapi, aku tak tahu mengapa hingga sekarang belum muncul juga alat berat itu. Warga pun hanya ramai membicarakan perihal tanah longsornya, yang merobohkan pohon cengkih dan membunuh si Bongko yang sedang bunting.
Sore ini kakek, ayah dari ibu datang ke rumah. Kedatangan kakek ke rumah selain sekedar untuk melihat keberadaan kami yang rutin dilakukannya, tapi juga untuk menanyakan kabarku. Bukan kabar soal apakah aman dari tanah longsor atau tidak, melainkan persiapanku untuk ujian akhir yang lagi dua minggu itu. Kakek memang selalu mengikuti perkembangan sekolahku, ini barangkali karena dia mantan guru di wanua kami. Kakek dulu kata ibu, adalah guru matematika di sekolah tempat aku bersekolah sekarang. Setelah memastikan bahwa aku sudah siap mengikuti ujian akhir, aku lihat kakek dan ayah bercerita di teras rumah.
Aku berada di dalam rumah sibuk mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Antara aku dengan ayah dan kakek di teras rumah itu hanya dipisahkan oleh dinding rumah sehingga aku masih bisa menguping pembicaraan mereka.
"Makanya, apa kata para orang tua mestinya kita dengar. Jangan sekali-kali menebang pohon beringin itu. Kamu tahu, usia pohon itu sudah setua wanua kita. Masakan tidak dihormati lagi. Kami dulu, menebang cabangnya saja harus minta permisi." kata Kakek pada ayah yang duduk di kursi sebelahnya. "Pohon beringin itu ditanam oleh leluhur kita untuk menjaga wanua ini."
"Yah, ini barangkali karena musim hujannya sudah sangat sering sehingga tidak bisa tertahan lagi oleh tanah. Alam memang sudah berkehendak begitu untuk menegur kelakuan kita manusia di wanua ini yang telah sangat jauh dari Tuhan. Kalau soal bahwa pohon beringin itu adalah penjaga kampung ini, aku pikir itu tinggal cerita lama, yang sekarang telah menjadi takhyul. Masakan kita orang yang sudah Kristen masih percaya takhyul. Karena itulah sehingga Tuhan marah," ujar ayah.
Kakek tak langsung menanggapi pemikiran ayah. Segelas kopi hitam yang dihidangkan ibu, diraih kakek dari meja. Seteguk cairan berkafein itu masuk ke kerongkongannya. Sebatang rokok kretek menyusul kemudian di bibirnya. Segera setelah itu kakek pun melepaskan kepulan asapnya. Sedangkan segelas berisi teh panas untuk ayah masih diam mematung di meja, hanya uapnya yang menari-nari.
Setelah dua kali mengeluarkan kepulan asap rokok, kakek pun berkata, "Ini bukan takhyul, Rob. Untung bukan Yantje atau kita yang menjadi korban. Bongko itu mati tertimbun longsor karena memang penjaga pohon beringin itu meminta tumbal. Ini karena kita tidak menghargainya lagi," kakek berkata menjelaskan. Tangannya ikut bergerak. Sebatang rokok kretek itu masih terjepit pasrah di antara jari-jarinya yang berurat.
"Sudahlah, yah. Ini bukan soal tumbal atau penjaga pohon itu sedang marah. Ini karena wanua kita ini harus sadar diri. Lihat, perjudian, percabulan dan pencurian semakin hari semakin marak terjadi di wanua kita ini. Itu semua dosa, yah. Untung Tuhan menegur kita masih lewat tanah longsor yang korbannya hanya Bongko dan pohon cengkih sansibar. Coba kalau gempa yang membela tanah dan sakit menular, seperti flu burung atau Aids. Sudah saatnya orang-orang di wanua ini melakukan pertobatan massal," Ayah agaknya mulai terpancing mengkhotbai kakek. Ini memang besar kemungkinan terjadi, karena ayah selain sebagai PNS di kantor kecamatan, juga sebagai penatua3 di gereja kami, yang kerjanya adalah juga mengkhotbai orang.
Aku berhenti sejenak dari kesibukanku mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Aku tiba-tiba terkejut bahkan bulu romahku sampai merinding mendengar percakapan yang sudah sangat serius itu. Aku pun keluar ingin ikut memberikan pendapat di tengah percakapan antara kakek dan ayah. Aku melangkah ke teras rumah dan berkata, "Begini pak, kek,..."
Belum selesai aku berbicara, ayah langsung memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar aku tidak usah ikut berbicara seraya berkata, "Pinkan, ayah sudah berkali-kali bilang, kalau orang tua lagi berbicara, kamu tidak boleh mengganggu. Kamu masih kecil tidak boleh mengganggu percakapan orang dewasa."
Larangan seperti itu memang selalu aku dengar. Alasanya selalu sama, kata ayah, karena aku masih kecil. Ini tidak adil. Padahal, Yesuspun sangat menghargai anak kecil. Tidak demokratis dan egaliter kalau begitu. Padahal, aku pernah baca buku, katanya orang Minahasa dulu sangat demokratis dan egaliter. Semua punya hak bicara asalkan sudah tahu bicara dan tentu sopan. Tapi bagaimanapun aku harus bicara, percuma aku sekolah kalau tidak boleh mengemukakan pendapat. Aku harus bicara sekarang.
"Ayah..."
Sekali lagi ayah melarangku. Tapi kakek membela.
"Rob, biarkan Pinkan bicara," kata kakek membela. "Apa yang ingin kau katakan, Pinkan?"
Ayah rupanya tak bersikeras melarangku berbicara. Ayah pun tiba-tiba hanya diam tak memandangku. Kakek malah menatapku dan siap mendengar apa yang akan aku katakan.
"Begini, kek, tanah longsor itu, kata guru Pinkan di sekolah antara lain di sebabkan oleh erosi. Air hujan tak lagi meresap ke dalam tanah. Ini karena tak ada lagi akar pohon-pohon yang menahannya. Tanah di ujung kampung itu 'kan tak ada lagi pohon besar. Jadi kalau hujan datang, airnya langsung mengikis tanahnya," kataku mengutip kata guru IPA-ku di sekolah.
"Itu sebabnya, kata kakek kepada ayahmu ini, bahwa tanah itu longsor karena kita tak lagi menghormati kehidupan tumbuhan di sana. Kita seenaknya menebang pohon, tanpa minta permisi kepada penjaganya," ujar kakek membalas apa yang aku bilang.
"Tapi, bagaimana dengan kata alkitab bahwa manusia harus menguasai dan menaklukan alam ini?" kata ayah menyela.
"Tapi, yah, tidak harus rakus. Harus ada keseimbangan antara pemanfaatan alam dan pemeliharaannya," ujarku. Lagi-lagi aku mengutip kata guruku di sekolah.
"Benar, Pinkan. Dulu kakek masih melihat orang menebang pohon dengan memakai semacam gergaji besar yang digerakkan oleh tenaga dua orang. Waktu itu memang orang juga menebang pohon, tapi tidak terlalu merusak, karena yang diambil adalah kayu di hutan yang usianya sudah sangat tua dan cara penebangannya pun masih tradisional dengan mengikuti petunjuk para tua-tua. Selain itu karena memang orang masih percaya bahwa alam adalah sahabat karibnya. Antara manusia dan hutan misalnya masih dianggap memiliki kesatuan. Dan, meski memang agama menyebut penghormatan kepada pohon yang para leluhur kita lakukan sebagai berhala, tapi seingat kakek kampung ini tidak pernah terjadi longsor. Sekarang manusia sudah semakin rakus dan tidak menghormati alam. Di belakang rumah pun kita sudah bisa mendengar raungan gergaji mesin. Sementara hampir setiap hari lewat truk-truk besar yang mengangkut kayu yang di tebang di hutan kita," kakek memberi penjelasan panjang lebar.
Ayah aku lihat sedikit terkesima dengan penjelasan kakek sehingga tidak berbicara lagi. Aku pun ketika mendengar itu bergegas masuk ke dalam rumah mengambil kliping koran yang aku gunting dari sebuah koran harian lokal. Aku ambil kliping itu dan membacakannnya untuk kakek dan ayah. Begini isi berita itu,
"Kerusakan hutan di Sulawei Utara yang telah mencapai 60 persen, diduga kuat sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang mem-porak-porandakan sejumlah wilayah Sulut, selang tahun 2007. Kerusakan hutan di daerah ini telah mencapai 60 persen dari 788.691 hektar luas kawasan hutan yang ada. Kenyataan ini berimbas pada munculnya lahan kritis yang luasnya sudah mencapai sekitar 473.214 hektar. Sementara data lain menyebutkan bahwa laju keruskan hutan di seluruh Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun."
"Nah, itu dia. Ini karena manusia telah memusuhi alam. Ini antara lain ya, itu tadi karena manusia tidak lagi menghargai kearifan budaya yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Manusia sekarang menjadi liar karena berburu kaya. Hutan yang adalah kehidupan kita mereka rusak. Jadi jangan heran kalau alam juga marah. Ini sudah hukum alam," tandas kakek.
"Setuju, kek!" aku berkata semangat.
Ayah hanya diam tapi kentara sedang berpikir. Dia seolah-olah sedang menganalisa data dari kliping koran yang aku bacakan dan pemikiran kakek. Bahkan teh yang di meja itu aku lihat baru seteguk yang ayah minum. Tidak ada lagi tarian uap dari gelas itu. Sementara gelas kopi milik kakek tinggal dasarnya yang hitam. Mudah-mudahan diam ayah berarti perenungan untuk menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab terhadap alam. Kalau kakek biarlah dia menjadi orang tua yang Kristen tapi tetap Minahasa. Sementara aku hanya berharap mudah-mudahan alam tidak cepat-cepat rusak. Aku masih harus menjalani kehidupan yang panjang.
Dan perlu kalian tahu, kalau nanti aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya hidup di alam yang hijau dan lestari, yang aku tuntut adalah kamu semua, manusia-manusia dewasa, yang kata kakekku semakin rakus karena nafsu kaya dan berkuasa. Ingat itu!!
Pojok Suara Minahasa, 93,3 FM
Jumat, 25 April 2008 17:36 pm
Tapi, lupakan dulu ya, soal ujian itu. Toh, aku sudah belajar keras dan juga sudah meminta doa dari mama, papa, kakak dan kalian semua. Tuhan mana yang mau membiarkan anak-anak-Nya jatuh dalam ketidalulusan?
Ada persoalan penting yang ingin aku ceritakan pada kalian. Minggu lalu wanua kami heboh dengan kejadian tanah longsor di ujung wanua kami. Untung kejadian itu tidak sampai memakan korban jiwa manusia, kecuali beberapa pohon cengkih sansibar milik om Alo. Tapi ada juga yang perlu disayangkan. Sapi milik Om Yantje yang bernama Bongko itu, tewas tertimbun tanah. Sampai sekarang cuma ekornya yang tampak keluar dari timbunan tanah bercampur batu. Tubuh si Bongko yang malang perlahan tapi pasti sementara membusuk dalam tanah. Kasihan memang. Padahal, menurut cerita Om Yantje, si Bongko sedang mengandung anaknya. Om Yante dan istrinya, tante Neli aku lihat sangat sedih. Aku apa lagi, si anak perempuan kecil ini.
Warga di wanua kami memang belum melakukan apa-apa membereskan longsoran tanah itu. Sebab hujan baru berhenti kemarin. Hukum Tua2 bilang sudah menelepon ke pemerintah kabupaten untuk mendatangkan alat berat mengangkat timbunan tanah itu. Tapi, aku tak tahu mengapa hingga sekarang belum muncul juga alat berat itu. Warga pun hanya ramai membicarakan perihal tanah longsornya, yang merobohkan pohon cengkih dan membunuh si Bongko yang sedang bunting.
Sore ini kakek, ayah dari ibu datang ke rumah. Kedatangan kakek ke rumah selain sekedar untuk melihat keberadaan kami yang rutin dilakukannya, tapi juga untuk menanyakan kabarku. Bukan kabar soal apakah aman dari tanah longsor atau tidak, melainkan persiapanku untuk ujian akhir yang lagi dua minggu itu. Kakek memang selalu mengikuti perkembangan sekolahku, ini barangkali karena dia mantan guru di wanua kami. Kakek dulu kata ibu, adalah guru matematika di sekolah tempat aku bersekolah sekarang. Setelah memastikan bahwa aku sudah siap mengikuti ujian akhir, aku lihat kakek dan ayah bercerita di teras rumah.
Aku berada di dalam rumah sibuk mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Antara aku dengan ayah dan kakek di teras rumah itu hanya dipisahkan oleh dinding rumah sehingga aku masih bisa menguping pembicaraan mereka.
"Makanya, apa kata para orang tua mestinya kita dengar. Jangan sekali-kali menebang pohon beringin itu. Kamu tahu, usia pohon itu sudah setua wanua kita. Masakan tidak dihormati lagi. Kami dulu, menebang cabangnya saja harus minta permisi." kata Kakek pada ayah yang duduk di kursi sebelahnya. "Pohon beringin itu ditanam oleh leluhur kita untuk menjaga wanua ini."
"Yah, ini barangkali karena musim hujannya sudah sangat sering sehingga tidak bisa tertahan lagi oleh tanah. Alam memang sudah berkehendak begitu untuk menegur kelakuan kita manusia di wanua ini yang telah sangat jauh dari Tuhan. Kalau soal bahwa pohon beringin itu adalah penjaga kampung ini, aku pikir itu tinggal cerita lama, yang sekarang telah menjadi takhyul. Masakan kita orang yang sudah Kristen masih percaya takhyul. Karena itulah sehingga Tuhan marah," ujar ayah.
Kakek tak langsung menanggapi pemikiran ayah. Segelas kopi hitam yang dihidangkan ibu, diraih kakek dari meja. Seteguk cairan berkafein itu masuk ke kerongkongannya. Sebatang rokok kretek menyusul kemudian di bibirnya. Segera setelah itu kakek pun melepaskan kepulan asapnya. Sedangkan segelas berisi teh panas untuk ayah masih diam mematung di meja, hanya uapnya yang menari-nari.
Setelah dua kali mengeluarkan kepulan asap rokok, kakek pun berkata, "Ini bukan takhyul, Rob. Untung bukan Yantje atau kita yang menjadi korban. Bongko itu mati tertimbun longsor karena memang penjaga pohon beringin itu meminta tumbal. Ini karena kita tidak menghargainya lagi," kakek berkata menjelaskan. Tangannya ikut bergerak. Sebatang rokok kretek itu masih terjepit pasrah di antara jari-jarinya yang berurat.
"Sudahlah, yah. Ini bukan soal tumbal atau penjaga pohon itu sedang marah. Ini karena wanua kita ini harus sadar diri. Lihat, perjudian, percabulan dan pencurian semakin hari semakin marak terjadi di wanua kita ini. Itu semua dosa, yah. Untung Tuhan menegur kita masih lewat tanah longsor yang korbannya hanya Bongko dan pohon cengkih sansibar. Coba kalau gempa yang membela tanah dan sakit menular, seperti flu burung atau Aids. Sudah saatnya orang-orang di wanua ini melakukan pertobatan massal," Ayah agaknya mulai terpancing mengkhotbai kakek. Ini memang besar kemungkinan terjadi, karena ayah selain sebagai PNS di kantor kecamatan, juga sebagai penatua3 di gereja kami, yang kerjanya adalah juga mengkhotbai orang.
Aku berhenti sejenak dari kesibukanku mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Aku tiba-tiba terkejut bahkan bulu romahku sampai merinding mendengar percakapan yang sudah sangat serius itu. Aku pun keluar ingin ikut memberikan pendapat di tengah percakapan antara kakek dan ayah. Aku melangkah ke teras rumah dan berkata, "Begini pak, kek,..."
Belum selesai aku berbicara, ayah langsung memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar aku tidak usah ikut berbicara seraya berkata, "Pinkan, ayah sudah berkali-kali bilang, kalau orang tua lagi berbicara, kamu tidak boleh mengganggu. Kamu masih kecil tidak boleh mengganggu percakapan orang dewasa."
Larangan seperti itu memang selalu aku dengar. Alasanya selalu sama, kata ayah, karena aku masih kecil. Ini tidak adil. Padahal, Yesuspun sangat menghargai anak kecil. Tidak demokratis dan egaliter kalau begitu. Padahal, aku pernah baca buku, katanya orang Minahasa dulu sangat demokratis dan egaliter. Semua punya hak bicara asalkan sudah tahu bicara dan tentu sopan. Tapi bagaimanapun aku harus bicara, percuma aku sekolah kalau tidak boleh mengemukakan pendapat. Aku harus bicara sekarang.
"Ayah..."
Sekali lagi ayah melarangku. Tapi kakek membela.
"Rob, biarkan Pinkan bicara," kata kakek membela. "Apa yang ingin kau katakan, Pinkan?"
Ayah rupanya tak bersikeras melarangku berbicara. Ayah pun tiba-tiba hanya diam tak memandangku. Kakek malah menatapku dan siap mendengar apa yang akan aku katakan.
"Begini, kek, tanah longsor itu, kata guru Pinkan di sekolah antara lain di sebabkan oleh erosi. Air hujan tak lagi meresap ke dalam tanah. Ini karena tak ada lagi akar pohon-pohon yang menahannya. Tanah di ujung kampung itu 'kan tak ada lagi pohon besar. Jadi kalau hujan datang, airnya langsung mengikis tanahnya," kataku mengutip kata guru IPA-ku di sekolah.
"Itu sebabnya, kata kakek kepada ayahmu ini, bahwa tanah itu longsor karena kita tak lagi menghormati kehidupan tumbuhan di sana. Kita seenaknya menebang pohon, tanpa minta permisi kepada penjaganya," ujar kakek membalas apa yang aku bilang.
"Tapi, bagaimana dengan kata alkitab bahwa manusia harus menguasai dan menaklukan alam ini?" kata ayah menyela.
"Tapi, yah, tidak harus rakus. Harus ada keseimbangan antara pemanfaatan alam dan pemeliharaannya," ujarku. Lagi-lagi aku mengutip kata guruku di sekolah.
"Benar, Pinkan. Dulu kakek masih melihat orang menebang pohon dengan memakai semacam gergaji besar yang digerakkan oleh tenaga dua orang. Waktu itu memang orang juga menebang pohon, tapi tidak terlalu merusak, karena yang diambil adalah kayu di hutan yang usianya sudah sangat tua dan cara penebangannya pun masih tradisional dengan mengikuti petunjuk para tua-tua. Selain itu karena memang orang masih percaya bahwa alam adalah sahabat karibnya. Antara manusia dan hutan misalnya masih dianggap memiliki kesatuan. Dan, meski memang agama menyebut penghormatan kepada pohon yang para leluhur kita lakukan sebagai berhala, tapi seingat kakek kampung ini tidak pernah terjadi longsor. Sekarang manusia sudah semakin rakus dan tidak menghormati alam. Di belakang rumah pun kita sudah bisa mendengar raungan gergaji mesin. Sementara hampir setiap hari lewat truk-truk besar yang mengangkut kayu yang di tebang di hutan kita," kakek memberi penjelasan panjang lebar.
Ayah aku lihat sedikit terkesima dengan penjelasan kakek sehingga tidak berbicara lagi. Aku pun ketika mendengar itu bergegas masuk ke dalam rumah mengambil kliping koran yang aku gunting dari sebuah koran harian lokal. Aku ambil kliping itu dan membacakannnya untuk kakek dan ayah. Begini isi berita itu,
"Kerusakan hutan di Sulawei Utara yang telah mencapai 60 persen, diduga kuat sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang mem-porak-porandakan sejumlah wilayah Sulut, selang tahun 2007. Kerusakan hutan di daerah ini telah mencapai 60 persen dari 788.691 hektar luas kawasan hutan yang ada. Kenyataan ini berimbas pada munculnya lahan kritis yang luasnya sudah mencapai sekitar 473.214 hektar. Sementara data lain menyebutkan bahwa laju keruskan hutan di seluruh Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun."
"Nah, itu dia. Ini karena manusia telah memusuhi alam. Ini antara lain ya, itu tadi karena manusia tidak lagi menghargai kearifan budaya yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Manusia sekarang menjadi liar karena berburu kaya. Hutan yang adalah kehidupan kita mereka rusak. Jadi jangan heran kalau alam juga marah. Ini sudah hukum alam," tandas kakek.
"Setuju, kek!" aku berkata semangat.
Ayah hanya diam tapi kentara sedang berpikir. Dia seolah-olah sedang menganalisa data dari kliping koran yang aku bacakan dan pemikiran kakek. Bahkan teh yang di meja itu aku lihat baru seteguk yang ayah minum. Tidak ada lagi tarian uap dari gelas itu. Sementara gelas kopi milik kakek tinggal dasarnya yang hitam. Mudah-mudahan diam ayah berarti perenungan untuk menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab terhadap alam. Kalau kakek biarlah dia menjadi orang tua yang Kristen tapi tetap Minahasa. Sementara aku hanya berharap mudah-mudahan alam tidak cepat-cepat rusak. Aku masih harus menjalani kehidupan yang panjang.
Dan perlu kalian tahu, kalau nanti aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya hidup di alam yang hijau dan lestari, yang aku tuntut adalah kamu semua, manusia-manusia dewasa, yang kata kakekku semakin rakus karena nafsu kaya dan berkuasa. Ingat itu!!
Pojok Suara Minahasa, 93,3 FM
Jumat, 25 April 2008 17:36 pm
Puisi Ran: "BUNGA TENGA JALAN".
Tataru diatas beton yang babla jalan jadi dua
Dalam pot ta ukir
Ada juga yang tataru di trotoar
Jadi panghias kota
Estetika yang so nda ada etika
Asik ba kase gaga kota deng warna bunga
Mar yang di atas sana
Itu dang yang jadi tampa ba simpang aer
Ta biar kong so jadi bota’
Pas datang bencana
Rame – rame bacirita hutan so gundul
Gundul ngana pe nene moyang
Cuma tenga kota yang ngoni kase gaga
Kong itu disana ngoni kase biar
Abis itu le bicara macam – macam
Supaya kata, salah nyanda dapa kantara
Danau so kurang stenga tiang
Hutan so jadi lahan proyek
Bencana datang
Yang ada cuma baku kase sala
Dalam pot ta ukir
Ada juga yang tataru di trotoar
Jadi panghias kota
Estetika yang so nda ada etika
Asik ba kase gaga kota deng warna bunga
Mar yang di atas sana
Itu dang yang jadi tampa ba simpang aer
Ta biar kong so jadi bota’
Pas datang bencana
Rame – rame bacirita hutan so gundul
Gundul ngana pe nene moyang
Cuma tenga kota yang ngoni kase gaga
Kong itu disana ngoni kase biar
Abis itu le bicara macam – macam
Supaya kata, salah nyanda dapa kantara
Danau so kurang stenga tiang
Hutan so jadi lahan proyek
Bencana datang
Yang ada cuma baku kase sala
Langganan:
Postingan (Atom)